Volatilitas juga dipicu oleh perkembangan politik dan hukum di Washington. Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa kebijakan tarif global luas yang diberlakukan Trump berdasarkan International Emergency Economic Powers Act dinilai tidak sah, dengan alasan presiden melampaui kewenangannya. Menanggapi putusan tersebut, Trump mengumumkan rencana baru untuk mengenakan tarif global sebesar 10 persen selama 150 hari.
Manuver kebijakan ini menimbulkan pertanyaan tentang stabilitas perdagangan global ke depan. Trader logam independen Tai Wong melihat potensi gejolak berlanjut. "Sulit membayangkan presiden begitu saja mengakhiri langkahnya; ia akan mencoba memberlakukan kembali tarif melalui dasar hukum lain yang dapat memicu volatilitas," jelas Wong.
Meski demikian, Wong meyakini bahwa ketidakpastian jangka menengah justru bisa menjadi pendorong bagi investor yang optimis terhadap emas. Sentimen ini turut berkontribusi pada penguatan harga logam kuning di tengah kenaikan tajam indeks saham Wall Street pasca-putusan Mahkamah Agung.
Prospek Suku Bunga dan Implikasinya
Di balik hiruk-pikuk kebijakan, pasar tetap mempertahankan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter The Fed. Mayoritas pelaku pasar masih memperkirakan akan terjadi dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin sepanjang tahun ini, dengan potensi pemotongan pertama pada bulan Juni. Lingkungan suku bunga yang rendah atau yang diperkirakan akan turun cenderung menguntungkan emas, karena aset ini tidak memberikan hasil (yield) dan menjadi lebih menarik ketika imbal hasil dari instrumen berbunga menurun.
Secara keseluruhan, minggu ini memperlihatkan bagaimana emas kembali memainkan peran tradisionalnya sebagai pelindung nilai. Logam mulia tersebut merespons secara positif campuran antara data ekonomi yang suram, ketidakpastian kebijakan fiskal, dan prospek moneter yang akomodatif, menegaskan daya tariknya di saat-saat turbulensi.
Artikel Terkait
BI Sebut Ruang Turunkan Suku Bunga Makin Sempit Imbas Gejolak Global
PT Asia Pramulia Beralih ke Impor Bahan Baku Akibat Konflik Timur Tengah
AISA Rencanakan Kuasi Reorganisasi untuk Hapus Akumulasi Kerugian Rp2,7 Triliun
Wall Street Melonjak Usai Gencatan Senjata AS-Iran-Israel, Harga Minyak Anjlok