Harga Emas Melonjak Didorong Perlambatan Ekonomi AS dan Ketidakpastian Kebijakan Trump

- Minggu, 22 Februari 2026 | 10:20 WIB
Harga Emas Melonjak Didorong Perlambatan Ekonomi AS dan Ketidakpastian Kebijakan Trump

MURIANETWORK.COM - Harga emas dunia mencatatkan kenaikan signifikan pada akhir pekan lalu, didorong oleh sinyal ekonomi Amerika Serikat yang melemah dan gelombang ketidakpastian kebijakan perdagangan global. Pada Jumat, 20 Februari 2026, harga emas spot melonjak lebih dari 2 persen, menutup pekan dengan keuntungan mingguan sebesar 1,3 persen. Pengumuman Presiden Donald Trump mengenai rencana tarif baru, menyusul pembatalan kebijakan lamanya oleh Mahkamah Agung AS, turut menambah sentimen hati-hati di kalangan investor.

Data Ekonomi AS dan Respons Pasar

Laporan produk domestik bruto (PDB) AS untuk kuartal IV-2025 menjadi katalis utama pergerakan pasar. Pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam tercatat melambat tajam menjadi hanya 1,4 persen secara tahunan, angka yang jauh di bawah proyeksi para ekonom yang berada di kisaran 3 persen. Perlambatan ini mencerminkan dampak dari penutupan pemerintahan dan melemahnya daya beli konsumen.

Di sisi lain, tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda. Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), tolok ukur inflasi favorit The Fed, naik 0,4 persen pada Desember, sedikit melampaui ekspektasi. Kombinasi data pertumbuhan yang lesu dan inflasi yang bandel ini menciptakan lingkungan makroekonomi yang kompleks, yang pada umumnya mendukung aset safe-haven seperti emas.

Senior Market Strategist RJO Futures, Bob Haberkorn, memberikan analisisnya terhadap kondisi yang berimbang ini. "Data ini menunjukkan inflasi masih ada di pasar. Namun, dengan PDB yang lebih rendah, hal itu mengindikasikan ekonomi belum mendekati titik balik," ungkapnya. Ia menambahkan, "Masih banyak hal yang belum diketahui dan ketidakpastian seputar ekonomi AS, dan itu mendukung harga emas."

Dinamika Kebijakan Tarif Trump

Volatilitas juga dipicu oleh perkembangan politik dan hukum di Washington. Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa kebijakan tarif global luas yang diberlakukan Trump berdasarkan International Emergency Economic Powers Act dinilai tidak sah, dengan alasan presiden melampaui kewenangannya. Menanggapi putusan tersebut, Trump mengumumkan rencana baru untuk mengenakan tarif global sebesar 10 persen selama 150 hari.

Manuver kebijakan ini menimbulkan pertanyaan tentang stabilitas perdagangan global ke depan. Trader logam independen Tai Wong melihat potensi gejolak berlanjut. "Sulit membayangkan presiden begitu saja mengakhiri langkahnya; ia akan mencoba memberlakukan kembali tarif melalui dasar hukum lain yang dapat memicu volatilitas," jelas Wong.

Meski demikian, Wong meyakini bahwa ketidakpastian jangka menengah justru bisa menjadi pendorong bagi investor yang optimis terhadap emas. Sentimen ini turut berkontribusi pada penguatan harga logam kuning di tengah kenaikan tajam indeks saham Wall Street pasca-putusan Mahkamah Agung.

Prospek Suku Bunga dan Implikasinya

Di balik hiruk-pikuk kebijakan, pasar tetap mempertahankan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter The Fed. Mayoritas pelaku pasar masih memperkirakan akan terjadi dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin sepanjang tahun ini, dengan potensi pemotongan pertama pada bulan Juni. Lingkungan suku bunga yang rendah atau yang diperkirakan akan turun cenderung menguntungkan emas, karena aset ini tidak memberikan hasil (yield) dan menjadi lebih menarik ketika imbal hasil dari instrumen berbunga menurun.

Secara keseluruhan, minggu ini memperlihatkan bagaimana emas kembali memainkan peran tradisionalnya sebagai pelindung nilai. Logam mulia tersebut merespons secara positif campuran antara data ekonomi yang suram, ketidakpastian kebijakan fiskal, dan prospek moneter yang akomodatif, menegaskan daya tariknya di saat-saat turbulensi.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar