MURIANETWORK.COM - Harga emas dunia mencatatkan kenaikan signifikan pada akhir pekan lalu, didorong oleh sinyal ekonomi Amerika Serikat yang melemah dan gelombang ketidakpastian kebijakan perdagangan global. Pada Jumat, 20 Februari 2026, harga emas spot melonjak lebih dari 2 persen, menutup pekan dengan keuntungan mingguan sebesar 1,3 persen. Pengumuman Presiden Donald Trump mengenai rencana tarif baru, menyusul pembatalan kebijakan lamanya oleh Mahkamah Agung AS, turut menambah sentimen hati-hati di kalangan investor.
Data Ekonomi AS dan Respons Pasar
Laporan produk domestik bruto (PDB) AS untuk kuartal IV-2025 menjadi katalis utama pergerakan pasar. Pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam tercatat melambat tajam menjadi hanya 1,4 persen secara tahunan, angka yang jauh di bawah proyeksi para ekonom yang berada di kisaran 3 persen. Perlambatan ini mencerminkan dampak dari penutupan pemerintahan dan melemahnya daya beli konsumen.
Di sisi lain, tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda. Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), tolok ukur inflasi favorit The Fed, naik 0,4 persen pada Desember, sedikit melampaui ekspektasi. Kombinasi data pertumbuhan yang lesu dan inflasi yang bandel ini menciptakan lingkungan makroekonomi yang kompleks, yang pada umumnya mendukung aset safe-haven seperti emas.
Senior Market Strategist RJO Futures, Bob Haberkorn, memberikan analisisnya terhadap kondisi yang berimbang ini. "Data ini menunjukkan inflasi masih ada di pasar. Namun, dengan PDB yang lebih rendah, hal itu mengindikasikan ekonomi belum mendekati titik balik," ungkapnya. Ia menambahkan, "Masih banyak hal yang belum diketahui dan ketidakpastian seputar ekonomi AS, dan itu mendukung harga emas."
Artikel Terkait
BI Sebut Ruang Turunkan Suku Bunga Makin Sempit Imbas Gejolak Global
PT Asia Pramulia Beralih ke Impor Bahan Baku Akibat Konflik Timur Tengah
AISA Rencanakan Kuasi Reorganisasi untuk Hapus Akumulasi Kerugian Rp2,7 Triliun
Wall Street Melonjak Usai Gencatan Senjata AS-Iran-Israel, Harga Minyak Anjlok