Pemerintah akhirnya buka suara soal rencana impor jagung dari Amerika Serikat. Intinya, ini bukan untuk sembarang kebutuhan, melainkan khusus buat industri makanan dan minuman kita. Alasannya sederhana: menjaga roda produksi sektor yang nyata-nyata menyumbang besar bagi perekonomian nasional tetap berputar lancar.
Lewat keterangan tertulis yang diterima Minggu (22/2/2026), Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto membeberkan detailnya. Dia bilang, skema Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang dipakai mengatur akses impor jagung AS dengan volume tertentu tiap tahunnya.
Angka 1,4 juta ton itu bukan main-main. Tapi pemerintah punya alasan kuat. Menurut Haryo, jagung dari Negeri Paman Sam punya spesifikasi dan mutu yang sesuai dengan kebutuhan teknis pabrik-pabrik makanan dan minuman di sini. Soal mutu, mereka merasa cocok.
Nah, kenapa harus dijaga sedemikian rupa? Sektor MaMin ini memang tulang punggung. Kontribusinya terhadap PDB nasional mencapai 7,13 persen. Angkanya signifikan.
Artikel Terkait
Gagalnya Perundingan AS-Iran Dorong Harga Minyak Tembus US$100, Saham Migas RI Menguat
Foton eMiler, Truk Listrik dengan Kabin Lapang dan Akselerasi Halus, Siap Operasi di Indonesia
Dolar AS Melonjak ke Level Tertinggi Seminggu Usai Trump Perintahkan Blokade Selat Hormuz
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,86 Juta per Gram, Harga Buyback Turun Rp42 Ribu