Pemerintah akhirnya buka suara soal rencana impor jagung dari Amerika Serikat. Intinya, ini bukan untuk sembarang kebutuhan, melainkan khusus buat industri makanan dan minuman kita. Alasannya sederhana: menjaga roda produksi sektor yang nyata-nyata menyumbang besar bagi perekonomian nasional tetap berputar lancar.
Lewat keterangan tertulis yang diterima Minggu (22/2/2026), Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto membeberkan detailnya. Dia bilang, skema Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang dipakai mengatur akses impor jagung AS dengan volume tertentu tiap tahunnya.
"Ketentuan ini mengatur bahwa Indonesia memberikan akses impor Jagung asal AS untuk peruntukan bahan baku industri makanan & minuman (MaMin) dengan volume tertentu per tahun. Kebutuhan importasi jagung untuk industri MaMin pada tahun 2025 sekitar 1,4 juta ton,"
Angka 1,4 juta ton itu bukan main-main. Tapi pemerintah punya alasan kuat. Menurut Haryo, jagung dari Negeri Paman Sam punya spesifikasi dan mutu yang sesuai dengan kebutuhan teknis pabrik-pabrik makanan dan minuman di sini. Soal mutu, mereka merasa cocok.
Nah, kenapa harus dijaga sedemikian rupa? Sektor MaMin ini memang tulang punggung. Kontribusinya terhadap PDB nasional mencapai 7,13 persen. Angkanya signifikan.
"Ketentuan ini penting untuk Indonesia dalam rangka memastikan kecukupan bahan baku utama pada industri MaMin yang memiliki kontribusi 7,13% terhadap PDB Nasional, dan menyumbang 21% dari total ekspor industri nonmigas (atau senilai USD48 Miliar),"
Bayangkan, ekspornya saja menyentuh 48 miliar dolar AS. Di sisi lain, sektor ini juga jadi penopang hidup bagi jutaan orang. Data tahun 2025 mencatat, ada sekitar 6,7 juta tenaga kerja yang terserap. Kalau pasokan bahan baku utama macet, bisa-bisa rantai produksi ikut tersendat. Imbasnya? Daya saing kita di pasar global bisa terpengaruh. Itu risiko yang coba dihindari.
Namun begitu, pemerintah mengaku tak tutup mata dengan nasih petani jagung lokal. Kebijakan ini dirancang dengan hati-hati agar produksi jagung dalam negeri untuk pakan ternak dan konsumsi langsung tidak terusik oleh masuknya jagung impor spesifikasi khusus tadi. Mereka berjanji akan menjaga keseimbangan.
Jadi, skemanya jelas: impor untuk penopang industri besar, sementara pasar domestik tetap dilindungi. Langkah ini seperti berjalan di tali, mencari titik seimbang antara memenuhi kebutuhan industri dan melindungi kepentingan petani lokal.
Artikel Terkait
Pakistan Lancarkan Serangan Udara ke Afghanistan, Kabul Kecam Pelanggaran Kedaulatan
2.285 Personel Amankan Laga Persib vs Persita di GBLA
DPR Tegaskan Produk Makanan dan Minuman AS Tetap Wajib Sertifikasi Halal
Anggota DPRD DKI Soroti Izin dan Kebisingan Lapangan Padel di Cilandak