Penyelidikan atas kematian NS (13), remaja asal Sukabumi, terus digenjot polisi. Kasus ini menyisakan banyak pertanyaan. Dari kondisi awal yang tampak seperti sakit biasa, berubah menjadi tragedi dengan temuan luka-luka di sekujur tubuh korban.
Menurut informasi, NS adalah santri yang pulang ke rumahnya awal Februari lalu untuk liburan. Ia sempat mengeluh demam, batuk, dan mual. Keluarganya membawanya ke puskesmas. Hasil pemeriksaan waktu itu menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Sepertinya bakal sembuh.
Namun begitu, keadaan justru berbalik pada Rabu (18/2). Kesehatannya memburuk. Yang mencemaskan, sang ayah, AS, menemukan luka lecet di tubuh anaknya itu. Sebelumnya, AS pergi bekerja ke Kota Sukabumi dan menitipkan NS pada ibu tirinya, TR.
Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Hartono, membeberkan kronologi yang pelan-pelan terungkap.
"Pada hari yang sama, korban sempat dibawa oleh ibu tirinya ke seorang tukang urut berinisial S. Namun, kecurigaan muncul saat sang ayah tiba kembali di rumah pada Kamis dini hari dan mendapati adanya sejumlah luka lecet yang tersebar di tubuh anaknya," jelas Hartono, Minggu (22/2/2026).
Langkah cepat diambil. NS segera dilarikan ke RSUD Jampang Kulon keesokan paginya, Kamis (19/2). Di sana, dalam kondisi lemah, korban sempat mengungkap sesuatu yang mengerikan. Ia mengaku dipaksa meminum air panas oleh ibu tirinya. Upaya penyelamatan tak berhasil. NS menghembuskan napas terakhirnya sekitar pukul empat sore.
Pemeriksaan medis awal oleh polisi menemukan hal yang mencengangkan. Ada sebaran luka lecet di wajah, leher, sampai keempat anggota geraknya. Polisi menduga itu adalah luka bakar derajat 2A. Bibirnya juga memar, kemungkinan akibat trauma tumpul. Temuan ini jelas mengarah pada dugaan kekerasan.
Di sisi lain, hasil autopsi justru memperlihatkan gambaran lain. Ditemukan penyakit kronis pada paru-paru serta perbendungan pada organ dalam. Kontras sekali dengan luka-luka di luar tadi.
Nah, perbedaan inilah yang kini jadi titik berat penyelidikan. Mana yang jadi penyebab utama kematiannya? Polisi masih mendalami, mengumpulkan barang bukti, dan mempertajam analisis. Kasus ini belum berakhir. Masyarakat pun masih menunggu kejelasan, bagaimana seorang remaja bisa berpulang dalam keadaan seperti itu.
Artikel Terkait
Pakistan Lancarkan Serangan Udara ke Afghanistan, Kabul Kecam Pelanggaran Kedaulatan
2.285 Personel Amankan Laga Persib vs Persita di GBLA
DPR Tegaskan Produk Makanan dan Minuman AS Tetap Wajib Sertifikasi Halal
Anggota DPRD DKI Soroti Izin dan Kebisingan Lapangan Padel di Cilandak