Faktor eksternal juga ikut bermain. Dari seberang lautan, Presiden AS Donald Trump menyatakan belum ada kesepakatan pasti dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu soal langkah negosiasi dengan Iran. Pernyataan ini keluar usai mereka berbicara pada Rabu. Meski begitu, Trump menegaskan pembicaraan dengan Teheran akan terus berjalan.
Sebelumnya, di hari Selasa, Trump bahkan sempat mempertimbangkan mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah jika kesepakatan dengan Iran gagal dicapai. Situasi geopolitik yang tetap panas ini selalu berpotensi menggoyah sentimen pasar.
Lalu, data dari Amerika juga memberi pengaruh. Laporan ketenagakerjaan AS untuk Januari yang baru dirilis ternyata lebih kuat dari perkiraan. Nonfarm Payrolls (NFP) naik 130 ribu, mengalahkan ekspektasi yang hanya sekitar 70 ribu. Angka ini juga lebih baik dari revisi data Desember yang sebesar 48 ribu.
Tingkat penganggurannya pun sedikit membaik, turun jadi 4,3 persen dari sebelumnya 4,4 persen.
Dari sisi pendapatan, ada kenaikan yang cukup menggembirakan. Pendapatan Per Jam Rata-Rata naik 0,4 persen secara bulanan, melompat dari kenaikan 0,1 persen di bulan sebelumnya dan melampaui prediksi pasar sebesar 0,3 persen. Secara tahunan, angkanya bertahan di 3,7 persen, juga sedikit di atas ekspektasi.
Nah, laporan yang solid ini pada akhirnya mengurangi desakan untuk pemotongan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Imbasnya, dolar AS mendapat angin segar untuk menguat dalam jangka pendek. Tekanan terhadap rupiah pun bertambah.
Jadi, gabungan antara kekhawatiran fiskal domestik dan penguatan dolar AS dari data eksternal, seperti dua sisi mata uang yang sama-sama mendorong rupiah ke posisi yang lebih lemah di penutupan perdagangan kemarin.
Artikel Terkait
Laba Bersih Matahari Department Store Anjlok 12,4% di Tahun Buku 2025
Laba Bersih Hermina (HEAL) Anjlok 20% Meski Pendapatan Naik
Bapanas Klaim Stok Pangan Nasional Kuat Hadapi Ancaman Godzilla El Nino 2026
Laba Bersih Tjiwi Kimia Turun 7,2% di 2025 Meski Penjualan Stabil