Laporan keuangan tahun 2025 PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) akhirnya dirilis. Hasilnya? Ada angin surut di tengah upaya bertahan. Perusahaan kertas yang dikendalikan keluarga Eka Tjipta Widjaja ini mencatat laba bersih sebesar USD 275,8 juta. Kalau dibandingin sama tahun 2024 yang mencapai USD 297,1 juta, angkanya turun sekitar 7,2 persen. Penurunan ini terjadi meski perusahaan berhasil menghemat di beberapa sisi.
Yang menarik, penjualan netonya hampir-hampir stagnan. Sepanjang 2025, TKIM membukukan penjualan USD 984,7 juta. Angka ini cuma turun tipis, 0,04 persen saja, dari realisasi tahun sebelumnya sebesar USD 985,1 juta. Jadi, penurunan laba bersihnya bukan karena omzet anjlok drastis.
Di sisi lain, manajemen ternyata cukup jeli menekan biaya produksi. Beban pokok penjualan berhasil ditekan 0,4 persen menjadi USD 833,8 juta. Berkat efisiensi ini, laba kotor atau bruto perusahaan malah naik sekitar 2 persen, menjadi USD 151 juta. Sayangnya, kenaikan di bagian ini tidak cukup untuk menopang beban di tempat lain.
Soalnya, beban usaha justru membengkak. Totalnya naik 7,6 persen secara tahunan, menjadi USD 84,7 juta. Akibatnya, laba usaha pun ikut terpangkas 4,5 persen, tersisa USD 66,2 juta dari sebelumnya USD 69,3 juta. Beban operasional yang membesar ini jelas jadi ganjalan.
Kalau dirunut lebih jauh, laba sebelum pajak penghasilan juga ikut merosot 7,1 persen menjadi USD 283,3 juta. Setelah dipotong beban pajak penghasilan neto sebesar USD 7,5 juta, ya dapatlah laba bersih tahun berjalan itu tadi, USD 275,8 juta. Laba yang sepenuhnya diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Nah, dari neracanya, ada cerita yang sedikit berbeda. Total ekuitas perseroan justru menunjukkan tren positif, meningkat 10,1 persen menjadi USD 2,95 miliar per akhir Desember 2025. Pencapaian ini didukung oleh kemampuan perusahaan menekan total liabilitas atau kewajiban hingga 17,4 persen, menjadi USD 972 juta. Meski begitu, komposisi utang jangka pendeknya masih besar, yakni USD 494,5 juta.
Total asetnya sendiri tumbuh tipis 1,7 persen menjadi USD 3,92 miliar. Tapi, ada satu hal yang perlu dicermati: likuiditas. Kas dan setara kas perusahaan anjlok cukup dalam, turun 37,9 persen menjadi USD 113,7 juta. Padahal setahun sebelumnya masih di angka USD 183 juta. Penurunan kas yang signifikan ini pasti jadi perhatian serius manajemen untuk operasional ke depannya.
Secara keseluruhan, tahun 2025 jadi tahun yang menantang bagi TKIM. Mereka berhasil menjaga penjualan dan ekuitas, tapi dihantui oleh membesarnya beban operasional dan menipisnya kas. Tantangan ke depan adalah bagaimana menyeimbangkan efisiensi dengan menjaga kesehatan arus kas.
Artikel Terkait
Danantara Komitmen Jadikan Bursa Saham sebagai Arena Utama Investasi Negara
PTPP Kantongi Kontrak Baru Rp24,95 Triliun Sepanjang 2025, RUPST Sahkan Susunan Pengurus Baru
Gojek Patuhi Aturan Baru, Siapkan Empat Langkah Dukung Bagi Hasil 92 Persen untuk Pengemudi
OJK: Pelemahan IHSG Masih Wajar, Dipicu Sentimen Global dan Domestik