Kebijakan Pangkas Produksi Nikel Dongkrak Saham Tambang di BEI

- Kamis, 12 Februari 2026 | 10:40 WIB
Kebijakan Pangkas Produksi Nikel Dongkrak Saham Tambang di BEI

Kebijakan pemerintah Indonesia ini langsung mendapat respons dari analis pasar komoditas global. Dua lembaga keuangan terkemuka, Goldman Sachs dan Macquarie, telah merevisi proyeksi harga nikel untuk tahun 2026 ke arah yang lebih optimis.

Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga rata-rata menjadi USD 17.200 per ton, dari sebelumnya USD 14.800. Bank investasi itu melihat potensi kenaikan harga hingga sekitar USD 18.700 per ton pada kuartal kedua 2026, seiring dengan ketatnya pasokan bijih dari Indonesia.

Namun, mereka juga memberikan catatan kehati-hatian. Goldman memperkirakan pasokan bisa meningkat kembali di paruh kedua tahun setelah adanya persetujuan kuota tambahan, yang berpotensi mengembalikan pasar ke kondisi surplus dan menekan harga mendekati level biaya produksi.

Sementara itu, Macquarie juga melakukan revisi dengan menaikkan proyeksi harga rata-rata LME 2026 menjadi USD 17.750 per ton, dari perkiraan awal USD 15.000.

Meski kebijakan Indonesia memberi angin segar, dinamika pasar nikel regional tetap kompleks. Dari Filipina, misalnya, DMCI Mining Corporation melaporkan rekor produksi bijih nikel pada 2025 dan menargetkan peningkatan lagi di tahun 2026. Pasokan dari negara tetangga ini turut memengaruhi ketersediaan volume untuk pasar utama seperti China.

Di dalam negeri, tantangan operasional juga muncul. Otoritas melaporkan bahwa sejumlah smelter asal China yang beroperasi di Sulawesi Tengah belum sepenuhnya mematuhi kewajiban pelaporan kegiatan investasi. Ketidaklengkapan dokumen ini menyulitkan pemantauan produksi secara menyeluruh, sebuah aspek penting dalam pengendalian pasokan.

Secara keseluruhan, pasar saham nikel hari ini merespons sinyal kebijakan yang berorientasi pada keberlanjutan harga. Sebagai produsen terbesar dunia, langkah Indonesia memang selalu menjadi sorotan dan mampu menggerakkan sentimen pasar. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan lebih lanjut mengenai realisasi kuota, kepatuhan industri, dan dinamika pasokan dari produsen lain di kawasan.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar