MURIANETWORK.COM - Sentimen positif dari pasar komoditas global mendorong penguatan saham-saham sektor nikel di Bursa Efek Indonesia pada Kamis (12 Februari 2026). Penguatan ini dipicu oleh rencana pemerintah Indonesia untuk memangkas produksi bijih nikel tahun ini, yang berpotensi mengetatkan pasokan dan menopang harga logam industri tersebut.
Sentimen Positif Dorong Saham Nikel Menguat
Pada perdagangan pagi hari, tepatnya pukul 09.58 WIB, mayoritas emiten tambang nikel tercatat bergerak di zona hijau. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memimpin penguatan dengan kenaikan signifikan 4,74 persen ke level Rp7.175 per saham. Di belakangnya, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) juga menguat 3,55 persen menjadi Rp1.460.
Kinerja positif turut ditunjukkan oleh saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang naik 2,53 persen dan entitas afiliasinya, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), yang bertambah 2,05 persen. Emiten besar lain seperti PT Timah Tbk (TINS) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turut menguat, mempertegas tren positif di sektor pertambangan logam dasar hari itu.
Kebijakan Pemangkasan Produksi Indonesia Jadi Katalis
Lonjakan harga saham ini tidak terlepas dari sentimen fundamental yang kuat dari komoditas nikel itu sendiri. Harga futures nikel bertahan di kisaran USD 17.900 per ton, didukung oleh kebijakan pemerintah Indonesia yang mengonfirmasi pemangkasan tajam kuota produksi bijih nikel untuk tahun 2026.
Kuota yang disetujui berada di kisaran 260-270 juta ton, angka yang jauh lebih rendah dibandingkan realisasi produksi tahun 2025 yang mencapai 379 juta ton. Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap surplus pasokan yang berkepanjangan di pasar global, dengan tujuan utama untuk menstabilkan dan menopang harga.
Seorang pejabat Kementerian ESDM mengonfirmasi kebijakan ini pada pertengahan Januari lalu.
"Indonesia tahun ini akan menurunkan kuota izin pertambangan tahunan menjadi 250 juta hingga 260 juta ton basah bijih, dari 379 juta ton pada 2025," jelasnya.
Analis Global Revisi Proyeksi Harga ke Atas
Kebijakan pemerintah Indonesia ini langsung mendapat respons dari analis pasar komoditas global. Dua lembaga keuangan terkemuka, Goldman Sachs dan Macquarie, telah merevisi proyeksi harga nikel untuk tahun 2026 ke arah yang lebih optimis.
Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga rata-rata menjadi USD 17.200 per ton, dari sebelumnya USD 14.800. Bank investasi itu melihat potensi kenaikan harga hingga sekitar USD 18.700 per ton pada kuartal kedua 2026, seiring dengan ketatnya pasokan bijih dari Indonesia.
"Harga berpotensi naik hingga sekitar USD18.700 per ton pada kuartal II-2026, seiring ketatnya ketersediaan bijih yang menopang pasar," ungkap analis Goldman Sachs.
Namun, mereka juga memberikan catatan kehati-hatian. Goldman memperkirakan pasokan bisa meningkat kembali di paruh kedua tahun setelah adanya persetujuan kuota tambahan, yang berpotensi mengembalikan pasar ke kondisi surplus dan menekan harga mendekati level biaya produksi.
Sementara itu, Macquarie juga melakukan revisi dengan menaikkan proyeksi harga rata-rata LME 2026 menjadi USD 17.750 per ton, dari perkiraan awal USD 15.000.
Dinamika Pasar Regional dan Tantangan Pemantauan
Meski kebijakan Indonesia memberi angin segar, dinamika pasar nikel regional tetap kompleks. Dari Filipina, misalnya, DMCI Mining Corporation melaporkan rekor produksi bijih nikel pada 2025 dan menargetkan peningkatan lagi di tahun 2026. Pasokan dari negara tetangga ini turut memengaruhi ketersediaan volume untuk pasar utama seperti China.
Di dalam negeri, tantangan operasional juga muncul. Otoritas melaporkan bahwa sejumlah smelter asal China yang beroperasi di Sulawesi Tengah belum sepenuhnya mematuhi kewajiban pelaporan kegiatan investasi. Ketidaklengkapan dokumen ini menyulitkan pemantauan produksi secara menyeluruh, sebuah aspek penting dalam pengendalian pasokan.
Secara keseluruhan, pasar saham nikel hari ini merespons sinyal kebijakan yang berorientasi pada keberlanjutan harga. Sebagai produsen terbesar dunia, langkah Indonesia memang selalu menjadi sorotan dan mampu menggerakkan sentimen pasar. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan lebih lanjut mengenai realisasi kuota, kepatuhan industri, dan dinamika pasokan dari produsen lain di kawasan.
Artikel Terkait
Saham Indospring (INDS) Melonjak 21%, Riwayat Emiten Pegas Kendaraan Kembali Diingat
Nagita Slavina Masuk Sebagai Calon Pengendali Baru PT VISI, Saham Terkoreksi Tajam
Pemerintah Pangkas Kuota Produksi Batu Bara dan Nikel pada 2026
BEI Perketat Aturan Transparansi dan Kepemilikan Saham Respons Tekanan Pasar