BANDUNG Mimpi buruk. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan malam Rabu itu bagi Persib Bandung. Di Dragon Solar Park, Ratchaburi, Pangeran Biru dibantai telak tiga gol tanpa balas dalam leg pertama babak 16 besar ACL Two. Bukan cuma skor yang menyakitkan, tapi juga cara kekalahan itu terjadi. Rasanya, jurang antara Persib dan panggung Asia terlihat begitu jelas.
Ratchaburi langsung menunjukkan taringnya. Baru lima menit laga berjalan, gawang Teja Paku Alam sudah bobol. Pedro TanausĂș DomĂnguez Placeres dengan dingin menyelesaikan umpan terukur Deni Junior yang membelah pertahanan Persib. 1-0 untuk tuan rumah.
Persib berusaha bangkit. Mereka menekan, mengencangkan lini tengah. Beberapa peluang sempat tercipta. Ada sundulan Frans Putros di menit ke-18, sepakan Uilliam Barros enam menit kemudian, dan tembakan jarak jauh Luciano Guaycochea. Sayangnya, semua itu mentah. Bola melambung melebar atau dengan mudah diamankan bek Ratchaburi.
Alih-alih menyamakan kedudukan, situasi malah makin runyam di babak kedua. Menit ke-53, Denilson dengan leluasa menyundul umpan matang Jakkaphan Kaewprom. Gawang Persib bobol untuk kedua kalinya. Skor 2-0.
Pelatih Bojan Hodak berusaha mengubah taktik. Adam Alis, Saddil Ramdani, dan Sergio Castel dimasukkan. Tapi ritme permainan tetap dikuasai Ratchaburi. Persib terlihat kebingungan, kehilangan ide.
Pukulan terakhir datang di menit ke-84. Lagi-lagi, Tana yang menjadi eksekutor. Dari kombinasi cepat satu-dua, dia menuntaskan malam buruk Persib. 3-0. Laga usai dengan kekalahan yang sangat telak bagi tim asal Kota Kembang itu.
Kini, misi di leg kedua terasa hampir mustahil. Persib harus menang dengan selisih minimal empat gol tanpa balas di Stadion GBLA nanti. Sebuah tugas berat yang butuh lebih dari sekadar keajaiban.
Kekalahan ini, mau tak mau, mengingatkan kita pada penampilan klub Indonesia lain di Asia. Ambil contoh PSM Makassar di era Bernardo Tavares beberapa musim lalu.
Di bawah asuhan pelatih asal Portugal itu, PSM tampil jauh lebih kompetitif. Mereka bukan sekadar pelengkap penderita. Tim asal Makassar itu bisa bersaing dan menjaga martabat, bahkan saat berhadapan dengan lawan yang di atas kertas lebih kuat.
Rahasianya apa? Pendekatan Tavares yang pragmatis. Dia membangun tim dengan fondasi pertahanan yang rapat dan disiplin. Transisi dari bertahan ke menyerang dilakukan dengan cepat dan terorganisir. Itu yang membuat PSM sulit ditaklukkan.
Nah, bandingkan dengan penampilan Persib di Thailand tadi malam. Pertahanan goyah, koordinasi antar-lini seperti tak ada, dan finishing yang payah. Di level Asia, hal-hal kecil seperti itu langsung dihukum. Cukup satu kesalahan, satu marking yang terlambat, dan gol pun tercipta.
Memang, cerita belum berakhir. Masih ada leg kedua di Bandung. Tapi untuk membalikkan agregat 3-0, Persib butuh sesuatu yang lebih. Butuh disiplin, efektivitas, dan mental baja hal-hal yang dulu menjadi ciri khas PSM di masa jayanya.
Malam kelam di Thailand sudah lewat. Pertanyaan besarnya sekarang: bisakah Persib bangkit dan memberikan kejutan? Semua jawabannya akan tersaji di Bandung nanti.
Artikel Terkait
Pedrosa Soroti Langkah Strategis Ducati di Pasar Pembalap MotoGP 2027
FIGC Selidiki Antonio Conte Diduga Hina Wasit di Coppa Italia
Barcelona Tanpa Rashford Hadapi Atletico di Semifinal Copa del Rey
Justin Hubner Masuk 3 Besar Bek Muda dengan Sliding Tackle Terbanyak di Eropa