YOGYAKARTA – Garda pertahanan udara Indonesia tak cuma mengandalkan pesawat tempur. Di titik-titik strategis, seperti Pangkalan TNI AU Adi Sucipto Yogyakarta, ada pos-pos pengamanan yang jadi ujung tombak. Tapi, cerita pertahanan udara tak berhenti di situ.
Di balik layar, ada satuan lain yang punya peran krusial. Namanya Batalyon Arhanud 21 Pasgat. Mereka ini bagian dari Resimen 2 Arhanud, dan tugas utamanya cukup spesifik: melindungi objek vital teknik Angkatan Udara dari segala ancaman yang datang dari langit.
Komandannya, Letkol Pas Yosef Abudondifu, membeberkan detail tugas satuan ini. Ancaman yang mereka waspadai beragam bentuknya.
“Kami merupakan satuan pertahanan udara titik untuk bertugas menjaga objek vital teknik angkatan udara dari ancaman udara,” jelas Yosef di Markas Batalyon, Rabu (11/1/2026).
“Ancaman tersebut bisa berupa pesawat tempur, UAV, maupun helikopter yang digunakan oleh musuh untuk masuk ke wilayah udara yurisdiksi nasional,” tambahnya.
Untuk menjalankan misi itu, Batalyon Arhanud 21 Pasgat mengandalkan teknologi mutakhir. Fasilitas radar canggih mereka berfungsi mengidentifikasi setiap gerakan mencurigakan di angkasa. Kerja mereka juga tak sendiri. Ada integrasi dan kolaborasi erat dengan matra TNI lain baik darat, laut, maupun udara bahkan dengan kepolisian. Kerja sama ini mencakup urusan pertahanan hingga misi sosial.
Secara teknis, posisi satuan ini sangat menentukan. Mereka ibarat lapis pertahanan terakhir. Jika musuh berhasil menembus titik pertama atau area kedua yang disebut terminal, maka batalyon inilah yang menghadang.
“Senjata terakhir yang dimiliki oleh pertahanan udara kita Indonesia saat ini untuk menghantam musuh ketika sudah ada di masuk dalam titik,” ujar Yosef.
“Titik dalam arti sudah masuk dalam pertahanan wilayah objek vital strategis seperti bandara ataupun ada di dalam markas pangkalan udara,” ulasnya.
Prosedur operasinya, tentu saja, didukung alutsista modern yang dirancang untuk mengimbangi serangan lawan. Beberapa radar pendeteksi mereka tersebar di beberapa lokasi, seperti Radar Congot di Yogyakarta, Radar Tegal, dan Radar Cibalingbing. Semuanya terintegrasi dengan sistem senjata andalan mereka: Smart Hunter.
Begitu ancaman terkonfirmasi, prosesnya berjalan cepat. Pasukan segera berkoordinasi dengan komando pusat di Halim Perdana Kusuma, Jakarta.
“Ketika ada informasi melalui komunikasi yang sudah kami bentuk… informasi tersebut akan dikirimkan ke kami,” jelas Yosef.
“Kami siap untuk menggelar satuan Smart Hunter kami, baik di Adi Sucipto, kami cover juga di Radar Congot maupun di Bandara Yogyakarta Internasional,” tandasnya.
Jadi, mulai dari deteksi dini hingga respons akhir, semuanya terhubung dalam satu sistem. Batalyon Arhanud 21 Pasgat memang tak sering terdengar, tetapi perannya sebagai perisai titik vital TNI AU jelas tak bisa dipandang sebelah mata.
Artikel Terkait
Pengamat Soroti Reformasi Kultural sebagai Inti Perubahan di Tubuh Polri
KPK Dalami Aliran Dana Kasus Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid
Istri Tersangka Korupsi Bupati Bekasi Diperiksa KPK
Sidang Praperadilan Kasus Pembunuhan Anak Politisi PKS, Kuasa Hukum dan Polisi Adu Bukti