Lain cerita dengan minyak kelapa sawit atau CPO. Komoditas yang satu ini justru menunjukkan ketahanan, bertahan di posisi MYR 4.229 per ton tanpa perubahan berarti. Sepertinya, tekanan yang menghantam komoditas lain belum cukup kuat untuk menggesernya.
Logam industri pun tak luput dari pelemahan. Nikel, misalnya, harganya melemah nyaris 3 persen menjadi USD 17.045 per ton. Pasar seakan tak punya ampun.
Yang paling menderita adalah timah. Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), harga logam ini benar-benar kolaps, terjun bebas 10,3 persen ke level USD 46.591 per ton. Penurunan tajam ini menegaskan betapa bearish-nya sentimen yang menyelimuti pasar komoditas hari itu. Pekan ini benar-benar dimulai dengan warna merah yang mendominasi layar para trader.
Artikel Terkait
OJK Pangkas Batas Transparansi: Kepemilikan Saham 1% Wajib Dibuka
Pasar Asia Bangkit dari Keterpurukan, KOSPI Melonjak hingga Picu Pembatasan Perdagangan
IHSG Coba Bangkit Usai Anjlok, Analis Proyeksi Pergerakan Sempit
Empat Saham Kembali ke Pasar, Masuk Papan Khusus Setelah Masa Suspensi