Demikian penuturan Chetan Seth, seorang strategist di Nomura, seperti dilansir Bloomberg, Senin (2/2). Meski penurunan status bukan skenario utama yang mereka perhitungkan, kemungkinannya tetap ada. Dan risiko semacam ini, menurut Seth, sulit diabaikan oleh para investor besar. Imbasnya bisa berupa tekanan yang berlarut-larut di pasar.
Sebelumnya, Nomura sebenarnya cukup optimis. Mereka melihat valuasi saham yang menarik, ditambah harapan akan stabilnya ekonomi dan laba perusahaan. Ekspektasi pasar pun dinilai sudah sangat rendah setelah sekian lama kinerjanya lesu. Kombinasi antara harga saham dan nilai tukar rupiah sempat terlihat menjanjikan bagi investor yang punya kesabaran.
Namun begitu, situasinya berubah. Ancaman arus keluar dana pasif, ditambah dengan memburuknya sentimen investabilitas, memaksa Nomura untuk mundur selangkah. Mereka kini memilih bersikap lebih waspada menatap prospek saham Indonesia ke depan.
Jadi, dalam waktu singkat, sudah tiga lembaga keuangan global besar yang merevisi pandangannya. Ini jelas sinyal yang patut dicermati oleh semua pemain di pasar modal Indonesia.
Artikel Terkait
Di Balik Anjloknya IHSG, Investor Asing Justru Borong Rp 654,9 Miliar
Harga Telur dan Cabai Merah Dorong Deflasi di Tiga Provinsi Sumatera
OJK Soroti Aksi Rebalancing Investor di Balik IHSG Anjlok 5%
Demutualisasi BEI Masih Tersandera Tunggu Peraturan Pemerintah