Sudah hampir sepuluh tahun, Donald Trump tak henti-hentinya menjadi pusat badai. Dicintai sekaligus dibenci dengan intensitas yang sama. Bagi sebagian orang, dia adalah sang penyelamat; bagi yang lain, ancaman nyata. Jarang ada pemimpin yang bisa membelah opini publik sedalam dan sekeras dirinya.
Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu hal yang kerap luput. Banyak orang terjebak menilai Trump dari gaya luarnya yang bombastis, alih-alih mencoba memahami cara berpikirnya yang khas.
Dan untuk memahami itu, kita harus membuang jauh-jauh kacamata politisi konvensional.
Bukan Politisi, Tapi Petarung dari Dunia Bisnis
Kebanyakan presiden Amerika punya jalur karir yang jelas: senator, gubernur, atau pejabat publik lama. Mereka hidup dalam budaya kompromi dan tutur kata yang hati-hati.
Trump? Dia datang dari dunia yang sama sekali berbeda. Dunia properti Manhattan dan bisnis televisi, sebuah arena yang keras dan tanpa ampun. Di sana, yang berlaku sederhana: menang atau kalah. Untung atau rugi. Anda menekan, atau justru akan ditekan. Kesopanan tak ada harganya jika akhirnya Anda bangkrut.
Nah, ketika pindah ke Gedung Putih, cara pikir itu tidak ditinggalkannya. Malah dibawanya sepenuhnya ke panggung politik global. Inilah kunci utamanya: Trump memandang dunia tak ubahnya seperti sebuah arena bisnis raksasa.
Logika Transaksi di Panggung Global
Sementara pemimpin lain bicara tentang nilai-nilai bersama dan solidaritas, Trump lebih sering menyebut angka. Beban biaya, defisit dagang, kontribusi yang tidak seimbang. Baginya, hubungan antarnegara pada dasarnya adalah transaksi.
Lihat saja caranya mempersoalkan kontribusi negara sekutu di NATO, atau mengancam keluar dari perjanjian dagang yang dianggapnya merugikan. Bagi banyak telinga, ini terdengar kasar dan tak bersahabat. Tapi bagi Trump, ini murni logika bisnis. Aliansi bukan ikatan moral, melainkan kontrak yang harus adil bagi semua pihak.
Kekasaran yang Mungkin Sengaja Diciptakan
Gaya bicaranya yang blak-blakan sering dianggap sebagai ketiadaan filter. Tapi coba kita lihat dari sudut lain: bisa jadi itu strategi yang disengaja.
Dalam negosiasi, pihak yang tak terduga dan sulit ditebak sering punya keunggulan psikologis. Cuitan di tengah malam, pernyataan keras yang tiba-tiba, ancaman tarif semuanya menciptakan tekanan dan ketidakpastian. Lawan akhirnya seringkali memilih untuk kembali ke meja perundingan. Dan di situlah Trump merasa berada di zona nyamannya. Dia paham betul, di era banjir informasi seperti sekarang, persepsi bisa menjadi alat tawar yang sangat ampuh.
Hubungan Cinta-Benci dengan Media
Trump mungkin presiden pertama yang benar-benar mengerti logika media abad 21. Dia tahu kontroversi itu mengundang perhatian, dan perhatian adalah mata uang kekuasaan yang baru.
Semakin keras media menyerangnya, semakin dia menjadi pusat segala pembicaraan. Bagi pendukungnya, ini adalah bukti keteguhan hati. Bagi lawannya, ini melelahkan secara mental. Trump bukan korban dari permainan media. Dia adalah pemain andal di dalamnya, bagai ikan yang justru hidup di air keruh.
Mengandalkan Chemistry, Bukan Protokol
Berbeda dengan diplomat karier, Trump sangat percaya pada hubungan personal. Chemistry antar individu, baginya, seringkali lebih penting daripada prosedur baku.
Artikel Terkait
Wamenkes: Virus Nipah Mengintai, Indonesia Harus Siaga Penuh
Gapruk dan Kebebasan: Kisah Awan, Pemulung yang Lebih Takut Dikurung daripada Dihina
Surat Tanah Lawas Tak Berlaku Lagi, Ini Daftar Lengkapnya
Malam Kelam di Cibeureum: Motor Dibawa Kabur, Pelaku Bersenjata Samurai