Di sisi lain, ada aspek inovatif yang juga digarisbawahi. Prabowo mengaku telah mendapat masukan dari sejumlah pakar bahwa limbah, seperti abu sisa pembakaran batubara, bisa dimanfaatkan sebagai campuran bahan genteng. "Saya dapat laporan dari profesor-profesor kita bahwa limbah dari batubara ya, ash itu dari batubara ya, itu dicampur dengan tanah bahan genteng yang baik," paparnya.
Gagasan ini sebenarnya punya akar historis. Prabowo mengingatkan, dulu nenek moyang kita tidak pakai seng. Mereka memanfaatkan bahan alam seperti rumbia atau ijuk untuk atap rumah. Kini, menurutnya, saatnya kembali ke material yang lebih alami dan berkelanjutan.
Argumen terakhirnya bernada filosofis sekaligus praktis, terutama menyangkut citra bangsa. "Turis dari luar, untuk apa dia datang melihat seng berkarat?" tanyanya retoris. "Karat itu lambang degenerasi. Saya berharap dalam 2-3 tahun Indonesia tidak akan kelihatan karat. Karat adalah lambang degenerasi, bukan lambang kebangkitan."
Jadi, begitulah idenya. Sebuah proyek besar "gentengisasi" yang ingin mengubah wajah permukiman Indonesia, dari atap rumah dimulai.
Artikel Terkait
Dana Asing Mulai Berbelanja, Saham Berkualitas Jadi Incaran
IHSG Anjlok 4,88%, Pelaku Pasar Malah Soroti Momentum Beli Saham Berkualitas
IHSG Terjun Bebas 5%, Pasar Saham Berdarah-darah
Pansel OJK Mulai Bergerak, Dua Pekan Lagi Ketua Baru Ditetapkan