Senin kemarin, pasar modal Indonesia menyuguhkan secercah angin segar. Setelah beberapa waktu sepi, investor asing mulai lagi melirik saham-saham di Bursa Efek Indonesia. Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara, mengamati gelagat positif ini meski ritme perdagangan secara keseluruhan masih terbilang lesu.
"Hari ini kan hari pertama setelah akhir pekan dan beberapa pengumuman penting," ujar Pandu.
Ia melanjutkan, "Aktivitas trading memang agak menurun, tapi ada sinyal bagus: kita catat net foreign buy di sesi pertama."
Menurutnya, pasar sedang dalam proses koreksi yang cukup jelas. Saham-saham yang sebelumnya melambung tinggi, atau dianggap kurang menarik untuk investasi jangka panjang, kini sedang mengalami tekanan jual. Namun begitu, situasi ini justru membuka peluang.
"Banyak saham dengan valuasi sangat tinggi, bahkan yang uninvestable, itu sedang dikoreksi," jelas Pandu.
"Tapi di sisi lain, saham-saham dengan fundamental kuat malah dibeli. Mereka bergerak positif."
Rotasi menuju saham berkualitas itu mulai terlihat nyata. Kalau kita perhatikan daftar saham yang paling banyak dibeli dan dijual hari Senin, polanya sudah sesuai dengan pembicaraan di kalangan investor belakangan ini. Koreksi yang terjadi terlihat alami, bukan goncangan tiba-tiba.
Data dari Stockbit pada Senin sore seolah mengonfirmasi analisis Pandu. Investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 577,41 miliar di seluruh pasar. Nilai pembelian mereka mencapai Rp 5,67 triliun, sementara penjualannya sekitar Rp 5,09 triliun.
Dari sisi volume, pola serupa terlihat. Asing mencatat net buy 1,09 miliar saham, dengan rincian beli 6,91 miliar saham dan jual 5,82 miliar saham.
Meski ada aliran dana masuk, dominasi pasar tetap di tangan investor domestik. Mereka menguasai porsi transaksi yang cukup besar, yakni 71,54 persen. Sementara itu, porsi asing tercatat 28,46 persen.
Jadi, apa artinya semua ini? Masuknya dana asing, meski belum mendominasi, memperkuat tanda-tanda awal sebuah rotasi. Uang mulai berpindah ke saham-saham berfundamental kokoh, sementara koreksi pada saham bernilai tinggi masih berlanjut. Pasar sepertinya sedang memilah dengan lebih cermat.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020