Pasar saham Indonesia hari ini, Senin (2/2), masih terperangkap di zona merah. IHSG ditutup anjlok 406,875 poin (4,88%) ke level 7.922,731. LQ45 juga ikut merosot 27,293 poin (3,27%) ke 806,242. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 58 yang menguat. Sebaliknya, 720 saham melemah dan 36 lainnya stagnan. Suasana pesimis tampak mendominasi.
Namun begitu, respons dari kalangan pelaku pasar justru terbilang tenang. Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara, menilai kondisi ini tak perlu dikhawatirkan berlebihan. Baginya, momen seperti ini justru mengingatkan semua orang untuk kembali melihat fundamental perusahaan.
"Jadi saya sih melihatnya sesuatu yang enggak perlu dikhawatirkan. Kita harus lihat balik ke fundamental, ke valuasi, kita harus membeli juga melihat saham-saham, dan ini bagus lah juga untuk pemikiran buat teman-teman, jangan hanya melihat short-term. Investasi itu harus memikir medium to long-term," jelas Pandu di BEI, Jakarta.
Dia melanjutkan, justru sekarang adalah waktu yang tepat untuk membeli saham-saham berkualitas. Memang, secara umum perdagangan hari ini lesu. Tapi coba lihat dari sisi lain: pembelian oleh investor asing malah menunjukkan tren peningkatan.
"Yang kedua, memang banyak retail melihat nih banyak saham-saham yang kemarin saya bilang uninvestability atau saham-saham yang memang dengan valuasi yang sangat tinggi mengalami koreksi. Tapi kalau dilihat saham-saham yang fundamental itu mengalami malah net buy dan positif," tuturnya.
Pasar Sedang 'Detoks'?
Pandangan serupa datang dari praktisi pasar modal Hans Kwee. Co-Founder PasarDana ini menilai fundamental bursa Indonesia sebenarnya baik. Menurutnya, pelemahan IHSG hari ini lebih karena pasar sedang melakukan 'detoks'.
"IHSG pada Senin ini dibuka melemah, tetapi saham-saham dengan fundamental bagus malah menguat atau diakumulasi," jelas Hans.
Pelemahan itu, katanya, terkonsentrasi pada saham-saham yang terdampak kebijakan MSCI dan upaya percepatan reformasi integritas oleh OJK. "Nampaknya pelaku pasar ritel sedang melakukan market detox dan melakukan penjualan mengantisipasi risiko," ujarnya.
Hans punya pesan sederhana: jangan panik. Justru ini momentum untuk jeli memilih. "Sebaiknya pelaku pasar ritel jangan panik, dan melakukan akumulasi pada saham-saham yang berfundamental bagus," tambahnya.
Delapan Langkah Reformasi OJK
Di sisi lain, otoritas juga tak tinggal diam. Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menguraikan delapan rencana aksi untuk memperkuat pasar. Tujuannya jelas: meningkatkan likuiditas, transparansi, dan tentu saja, kepercayaan investor.
“OJK bersama dengan Self Regulatory Organization, bersama dengan Bursa Efek Indonesia, Kliring Penjaminan Efek Indonesia, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia, menyampaikan komitmen untuk melakukan bold and ambitious reforms di pasar modal Indonesia sesuai dengan best practices dan memenuhi ekspektasi Global Index Provider,” kata Friderica dalam sebuah dialog di BEI, Minggu (1/2).
Reformasi ini dikelompokkan dalam empat klaster. Yang paling banyak dibicarakan adalah kenaikan batas minimum free float emiten menjadi 15%, naik dari ketentuan sebelumnya 7,5%. Untuk perusahaan baru IPO, aturan 15% langsung berlaku. Emiten lama akan dapat masa transisi.
Klaster lain fokus pada transparansi, terutama mengungkap ultimate beneficial owner (UBO) dan penguatan data kepemilikan saham yang lebih detail dan andal. Ada juga rencana demutualisasi BEI untuk mengurangi konflik kepentingan.
Penegakan aturan akan diperketat. OJK berkomitmen menindak manipulasi transaksi dan penyebaran informasi menyesatkan. Tata kelola emiten juga akan dikuatkan, misalnya lewat kewajiban pendidikan berkelanjutan bagi direksi dan komisaris.
Dua rencana terakhir berfokus pada sinergi. OJK akan berkolaborasi dengan Kementerian Keuangan, BI, dan stakeholder lain untuk mendalami pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang, serta mengokohkan kolaborasi untuk reformasi berkelanjutan.
Intinya, di balik layar, banyak yang sedang dirapikan. Pasar mungkin cemas hari ini. Tapi bagi yang percaya fundamental, ini bisa jadi justru sebuah kesempatan.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020