IHSG Terjun Bebas 5%, Pasar Saham Berdarah-darah

- Senin, 02 Februari 2026 | 17:00 WIB
IHSG Terjun Bebas 5%, Pasar Saham Berdarah-darah

Pasar saham kita hari Senin kemarin benar-benar berdarah. IHSG ambruk tajam, ditutup di level 7.922,73 setelah terperosok hampir 5 persen. Rasanya seperti semua sektor terkena imbas tanpa ampun.

Perdagangan sepanjang hari cukup bergejolak. Indeks sempat mencoba bangkit ke 8.313, tapi tekanan jual yang masif justru mendorongnya hingga ke dasar di angka 7.820. Suasana di lantai bursa pasti mencekam.

Kalau lihat papan pencatatan, gambaran suramnya makin jelas. Hanya segelintir, 63 saham saja, yang mampu bertahan di zona hijau. Sementara itu, 753 saham lainnya terkapar dengan warna merah menyala. Volume transaksi pun tinggi, mencapai 48 miliar lebih saham dengan nilai Rp29 triliun tanda bahwa aksi jual benar-benar dominan.

Tak cuma IHSG, indeks-indeks utama lain juga ikut terpuruk. LQ45 dan IDX30 masing-masing merosot lebih dari 2-3 persen. Tapi yang paling parah mungkin JII dan ISSI, yang anjlok lebih dari 6 persen.

Di sisi lain, seluruh sektor kompak menghiasi monitor dengan warna merah. Sektor bahan baku jadi yang terparah, kolaps lebih dari 10 persen. Energi dan infrastruktur juga tak kalah menderita, terkoreksi dalam kisaran 6-7 persen. Bahkan sektor yang biasanya lebih tahan banting seperti keuangan dan kesehatan pun ikut terseret, meski penurunannya tak sedahsyat yang lain.

Di tengah pekatnya merah, masih ada sedikit titik terang. Beberapa saham berhasil melawan arus dan mencetak keuntungan. INTD, SOHO, dan SWID adalah jagoan hari itu, dengan kenaikan yang cukup fantastis hingga di atas 17 persen.

Tapi, pemenang hari ini jelas adalah para pemegang saham yang masuk dalam daftar top losers. CUAN, ENRG, dan FILM sama-sama terpangkas 15 persen, menjadi simbol betapa kerasnya koreksi kali ini.

Hari yang berat bagi investor. Sekarang, semua mata tertuju pada perdagangan hari Selasa: apakah ini hanya koreksi sesaat, atau awal dari tren yang lebih dalam? Kita lihat saja nanti.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler