Namun begitu, gambaran jangka panjangnya justru berbeda. Secara tahunan, inflasi Januari 2026 terhadap Januari 2025 tercatat 3,55 persen. Angka ini ternyata lebih tinggi dari inflasi tahunan yang terjadi setahun sebelumnya. Artinya, tren penurunan harga bulanan itu tidak serta-merta menandakan kondisi ekonomi yang lebih murah dalam setahun terakhir.
Lalu, apa yang mendorong inflasi tahunan ini? Ternyata, kelompok pengeluaran untuk perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga punya andil besar. Kenaikan di kelompok ini mencapai 11,93 persen, menyumbang 1,72 persen terhadap inflasi keseluruhan. Biaya hidup di sektor tersebut tetap menjadi tekanan utama.
Kembali ke laporan bulanan, BPS mencatat deflasi sebesar 0,15 persen pada Januari 2026 dibanding Desember 2025. Penurunan ini juga terlihat dari pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK), yang sedikit merosot dari 109,92 menjadi 109,75. Sebuah penurunan yang kecil, tapi signifikan untuk dicatat.
Jadi, ceritanya jadi dua sisi. Di satu sisi, ada penurunan harga bulanan pascabencana. Di sisi lain, tekanan inflasi tahunan masih terasa, terutama dari kebutuhan pokok perumahan dan energi. Situasi yang kompleks, memang, untuk ekonomi di wilayah yang baru saja pulih dari bencana.
Artikel Terkait
Dana Segar Danantara Serbu Pasar Saham, Siap Garap Demutualisasi BEI
IHSG Terjun Bebas 5,32% Dihantam Isu Transparansi MSCI
AS Puncaki Surplus Dagang Indonesia, Sentuh Angka Rp 18,1 Miliar
GPSO Pacu Ekspansi Besar: Rp700 Miliar Digelontorkan untuk Akuisisi dan Konsolidasi