China Eksekusi Mati Otak Sindikat Penipuan Myanmar dalam Gelombang Penindasan Beruntun

- Senin, 02 Februari 2026 | 16:15 WIB
China Eksekusi Mati Otak Sindikat Penipuan Myanmar dalam Gelombang Penindasan Beruntun

Otoritas China baru saja mengeksekusi empat orang. Mereka bukan penjahat biasa, melainkan otak dari sindikat penipuan skala besar yang beroperasi dari Myanmar. Yang menarik, ini sudah eksekusi mati kedua yang dilakukan Beijing dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Tindakan ini jelas bukan kebetulan.

Menurut sejumlah saksi, gelombang penindakan terhadap praktik scam lintas perbatasan ini memang sedang digencarkan. Sindikat-sindikat yang biasanya mengincar korban lewat telekomunikasi kini jadi sasaran utama. Tekanan dari Beijing tampaknya semakin keras.

Pengadilan Rakyat Shenzhen yang mengonfirmasi berita ini menyebut keempat terpidna itu terkait dengan "kelompok kriminal keluarga Bai". Pernyataan resmi dari pengadilan, seperti dilansir AFP Senin lalu, cukup gamblang. Eksekusi sudah dilaksanakan.

Daftar kejahatan mereka panjang dan mengerikan. Bukan cuma penipuan online. Pengadilan menyebut ada pembunuhan berencana, penganiayaan, penculikan, sampai pemerasan. Bahkan prostitusi paksa juga termasuk dalam modus operandi mereka.

Yang satu ini cukup mencengangkan: salah satu terpidana, Bai Yingcang, disebut-sebut terlibat dalam produksi dan penjualan metamfetamin. Jumlahnya fantastis, sekitar 11 ton. Ini menunjukkan jaringan mereka yang luas dan multi-segi.

Markas operasinya ada di Kokang, wilayah Myanmar utara yang kerap jadi daerah abu-abu. Dari sanalah mereka mengendalikan pusat-pusat penipuan. Aksi brutal mereka dikabarkan menewaskan sedikitnya enam warga China dan melukai banyak korban lainnya.

Hukuman untuk mereka sebenarnya sudah diputuskan lama. November tahun lalu, pengadilan telah menjatuhkan vonis mati. Dan kini, eksekusi itu benar-benar dijalankan. Sebuah akhir yang kelam untuk bisnis kriminal yang merusak itu.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar