Peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia sempat membuat ruang gerak IHSG berwarna merah. Tapi, bagi Luhut Binsar Pandjaitan, situasi ini justru bisa jadi momentum. Ketua Dewan Ekonomi Nasional itu melihatnya sebagai peluang untuk mentransformasi pasar modal kita.
Menurutnya, alarm dari MSCI itu harusnya jadi pendorong. “Kita membutuhkan pemimpin yang berani mengeksekusi perubahan dan menegakkan aturan. Pasar modal harus menjadi pilar pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkeadilan dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas,” tegas Luhut.
Dia tak menampik bahwa koreksi indeks terjadi. Namun begitu, dia mengimbau masyarakat dan investor domestik untuk tetap tenang. Jangan sampai terbawa sentimen jangka pendek yang justru merugikan. Pemerintah, bersama OJK dan BEI, sudah bersiap mengambil langkah.
Luhut berjanji DEN akan mendukung penuh langkah perbaikan itu. Fokusnya jelas: menciptakan pasar yang sehat, transparan, dan kompetitif. Beberapa tindakan konkret yang akan dijalankan antara lain memperketat pengawasan perdagangan. Pemantauan transaksi tidak wajar akan ditingkatkan, aturan untuk mencegah manipulasi akan ditegakkan, dan komunikasi ke pasar akan dibuat lebih cepat dan jelas. Intinya, perlindungan investor dan stabilitas pasar jadi prioritas utama.
Di sisi lain, OJK ternyata sudah punya peta jalan yang cukup detail. Mereka menyiapkan delapan rencana aksi reformasi. Pertama, soal likuiditas. OJK akan mendorong kebijakan baru "free float" dengan menaikkan batas minimum kepemilikan publik menjadi 15 persen, tentu dengan masa transisi bagi emiten yang sudah terdaftar.
Kedua, transparansi. Ini akan diperkuat lewat kewajiban mengungkap "Ultimate Beneficial Ownership" (UBO). Tujuannya sederhana: memperjelas siapa pemilik manfaat akhir saham, biar kepercayaan investor naik.
Artikel Terkait
Prabowo Geram pada Kelompok Apa Bisa, Targetkan Kemiskinan Ekstrem Hilang 2029
Prabowo Larang Ekspor Jelantah, Sawit Dijagokan Jadi Tanaman Ajaib untuk Biodiesel dan Avtur
IHSG Terjun Bebas 5,3%, Pasar Modal Indonesia Diguyur Awan Merah
Impor Indonesia Tembus USD241,86 Miliar di 2025, Didorong Lonjakan Barang Modal