Di sisi lain, tantangan untuk mencapai angka-angka optimis itu tidak kecil. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, sudah mengingatkan adanya tekanan eksternal yang bisa menghambat. Dunia sedang tidak baik-baik saja.
Mulai dari dampak kebijakan tarif AS, kerentanan rantai pasok global, sampai eskalasi ketegangan geopolitik di berbagai wilayah, semua itu berpengaruh. BI bahkan memproyeksi perlambatan.
"Perekonomian dunia masih dalam tren melambat dengan ketidakpastian yang meningkat," jelas Perry.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diprediksi hanya 3,2 persen. Angka ini sedikit lebih rendah dibanding perkiraan untuk 2025 yang sekitar 3,3 persen. Jadi, target 6 persen Purbaya memang harus ditempuh dalam kondisi dunia yang kurang bersahabat.
Artikel Terkait
Rupiah Tersenyum Tipis, Tapi Modal Asing Kabur Rp12,5 Triliun
Shutdown AS Kembali Terjadi, Tapi Dampaknya Tak Separah Sebelumnya
Prabowo di Davos: Dari Kestabilan Ekonomi hingga Prabowonomics
Peta Jalan Semikonduktor Indonesia Dicanangkan, Impor Rp 77 Triliun Jadi Pemicu