Alhasil, di tengah ketidakpastian global, pelaku usaha lebih memilih bermain aman. Mereka mempertahankan model bisnis yang ada daripada melakukan transformasi yang berisiko.
Lalu, bagaimana caranya keluar dari jebakan ini? Burhanuddin menegaskan, kuncinya ada pada reformasi struktural yang digerakkan oleh sebuah ‘gaya luar’ yang kuat. Tanpa dorongan itu, kita akan terus terjebak dalam pola lama.
Pertama dan utama, penegakan hukum harus jadi fondasi. Pemberantasan korupsi dan penindakan tegas terhadap penyalahgunaan wewenang mutlak diperlukan untuk menciptakan efisiensi.
Selain itu, institusi pasar perlu diperkuat. Kebijakan harus diarahkan ulang untuk mendongkrak produktivitas, misalnya lewat peningkatan keterampilan buruh, adopsi teknologi, dan perbaikan kapasitas manajerial.
“Kepercayaan terhadap institusi adalah modal utama,” katanya menekankan.
Tanpa kredibilitas kelembagaan, sulit mengharapkan gelombang investasi dan inovasi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tinggi.
Sebenarnya, agenda reformasi ini sudah ada di dalam rancangan kebijakan pemerintah. Tantangannya sekarang adalah eksekusi. Butuh konsistensi, fokus, dan implementasi yang kredibel. Stabilitas yang sudah susah payah dibangun harus jadi landasan pacu, bukan justru jadi pagar pembatas yang membuat kita tidak bisa berlari kencang.
Artikel Terkait
Iman Rachman Pamit dari Pucuk BEI di Tengah Gejolak Pasar
IHSG Melonjak 1,12% di Tengah Kejutan Mundurnya Dirut BEI
DSSA Pecah Saham, Harga Rp94 Ribu Bakal Ditekan ke Rp3.750
DSSA Pecah Saham Demi Tarik Investor Ritel, Harga Bakal Terjun ke Rp3.750