Target pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen? Mimpi yang mulia, tapi menurut Burhanuddin Abdullah, itu bakal sulit tercapai kalau kita cuma mengandalkan cara-cara lama. Ya, bonus demografi dan stabilitas politik itu penting, tapi itu saja tidak cukup. Perlu ada perubahan struktural yang benar-benar mendasar.
Pandangan ini ia sampaikan di Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta, Kamis lalu. Forum yang mengusung tema "Navigating Indonesia’s Next Chapter" itu dihadiri oleh sederet nama besar, mulai dari menteri hingga para pelaku bisnis ternama.
Di hadapan ratusan peserta, Burhanuddin yang merupakan Board of Advisors Prasasti, membeberkan analisisnya. Selama lebih dari sepuluh tahun, pertumbuhan kita mandek di angka sekitar 5 persen. Angka itu, meski menunjukkan ketahanan, juga sekaligus jadi penanda bahwa ada dinding tak kasat mata yang menghalangi kita untuk melesat lebih cepat.
“Perekonomian kita mencapai keseimbangan, tetapi dengan akselerasi dan keberanian mengambil risiko yang rendah,” ujarnya.
Menurutnya, kita ini jago sekali bertahan. Tapi, kurang terlatih untuk melompat. Gejalanya disebut inersia kecenderungan untuk tetap di kondisi yang sama. Stabilitas yang kita jaga ketat itu malah bikin semua pihak nyaman, enggan mengambil langkah berisiko. Akibatnya, kreativitas dan inovasi mandek.
Masalahnya berlapis. Struktur pertumbuhan kita masih bergantung pada penambahan tenaga kerja dan modal, bukan pada peningkatan produktivitas. Pola seperti ini memang bisa menjaga keadaan tetap stabil, tapi mustahil mendorong lompatan besar.
Belum lagi soal birokrasi. Fragmentasi kelembagaan dan mahalnya biaya koordinasi antar-instansi membuat kebijakan pemerintah lambat sampai ke lapangan. Implementasinya pun sering tak merata.
“Biaya kepatuhan bagi dunia usaha menjadi tinggi,” jelas Burhanuddin.
Artikel Terkait
Iman Rachman Pamit dari Pucuk BEI di Tengah Gejolak Pasar
IHSG Melonjak 1,12% di Tengah Kejutan Mundurnya Dirut BEI
DSSA Pecah Saham, Harga Rp94 Ribu Bakal Ditekan ke Rp3.750
DSSA Pecah Saham Demi Tarik Investor Ritel, Harga Bakal Terjun ke Rp3.750