Microsoft Gegerkan Wall Street, Saham Teknologi Terperosok Meski Laba Melesat

- Jumat, 30 Januari 2026 | 06:55 WIB
Microsoft Gegerkan Wall Street, Saham Teknologi Terperosok Meski Laba Melesat

Suasana di Wall Street Kamis kemarin (29/1) cukup beragam. Mayoritas indeks memang ditutup di zona merah, tapi ada satu yang bertahan. Dow Jones Industrial Average, misalnya, berhasil mengakhiri sesi dengan kenaikan tipis 0,1 persen ke level 49.071,56 poin.

Namun begitu, sentimen positif itu tak cukup kuat. Indeks acuan S&P 500 akhirnya turun 0,2 persen ke 6.963,76 poin. Padahal, di tengah sesi, penurunannya sempat lebih dalam, nyaris 1,5 persen. Nasib serupa dialami Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi. Indeks ini melemah 0,7 persen ke 23.685,12 poin, setelah sebelumnya sempat terpuruk sekitar 2,5 persen.

Lalu, apa yang terjadi? Sorotan utama pasar tertuju pada Microsoft. Saham raksasa teknologi itu ambruk lebih dari 12 persen. Ironisnya, ini terjadi justru setelah mereka melaporkan pendapatan dan laba yang mengalahkan ekspektasi analis.

Andrew Goins, manajer portofolio senior di Orion Advisor Solutions, punya penjelasannya.

"Tapi peningkatan tajam dalam pengeluaran infrastruktur AI tampaknya membuat pasar panik. Saham-saham perangkat lunak paling terpukul oleh aksi jual, dengan kelompok saham yang lebih besar turun hampir 10 persen," ujarnya.

Jadi, meski kinerjanya bagus, rencana belanja besar-besaran Microsoft untuk AI justru membuat investor ciut nyali. Aksi jual pun merembet ke sektor perangkat lunak secara keseluruhan dan membebani sentimen pasar.

Di sisi lain, ada juga kabar baik yang datang dari Meta. Saham perusahaan induk Facebook dan Instagram itu melonjak. Pasalnya, Meta memberikan proyeksi pendapatan kuartal pertama yang lebih optimis dari yang diperkirakan pasar. Mereka bahkan berencana menaikkan anggaran pengeluaran tahun ini secara signifikan, hingga USD 135 miliar, untuk mendanai ambisi besar di bidang kecerdasan buatan. Angka itu hampir dua kali lipat dari total tahun lalu.

Saat ini, perhatian pelaku pasar beralih ke laporan-laporan pendapatan perusahaan besar lainnya. Apple, misalnya, dijadwalkan mengumumkan kinerjanya setelah pasar tutup. Sementara itu, di tengah gejolak saham teknologi, harga emas justru mendekati level USD 5.600 per ons, menandai adanya aliran dana ke aset yang dianggap aman.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar