Kimia Farma Bangun Ekosistem Kesehatan Terintegrasi untuk Lansia, Bidik Potensi Ekonomi Rp700 Triliun pada 2045

- Senin, 15 Juni 2026 | 17:45 WIB
Kimia Farma Bangun Ekosistem Kesehatan Terintegrasi untuk Lansia, Bidik Potensi Ekonomi Rp700 Triliun pada 2045

PT Kimia Farma (Persero) Tbk tengah membangun ekosistem layanan kesehatan terintegrasi yang dirancang khusus bagi kelompok lanjut usia (lansia), sebuah langkah strategis untuk menangkap potensi ekonomi dari segmen ini yang diperkirakan mencapai Rp500 triliun hingga Rp700 triliun per tahun pada 2045. Langkah ini diambil seiring dengan proyeksi peningkatan signifikan jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia yang akan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan industri kesehatan nasional menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.

Direktur Komersial Kimia Farma, Hanadi Setiarto, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak hanya berfokus pada penyediaan produk dan layanan kesehatan semata. Perusahaan, menurut dia, juga berkomitmen membangun infrastruktur nasional yang mendukung terciptanya lansia yang sehat, mandiri, dan produktif.

"Kimia Farma tidak hanya menyediakan produk dan layanan kesehatan, tetapi juga membangun infrastruktur nasional untuk mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045," kata Hanadi dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.

Untuk mencapai potensi ekonomi tersebut, perseroan menerapkan cetak biru ekonomi penuaan atau Silver Economy Blueprint. Strategi ini diwujudkan dengan membangun ekosistem penuaan sehat (healthy ageing) yang terintegrasi, seiring dengan meningkatnya proporsi penduduk lansia di tanah air.

Hanadi menjelaskan, proporsi penduduk lanjut usia diperkirakan akan mencapai 20 persen dari total populasi Indonesia pada 2045. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan proyeksi sekitar 12 persen pada 2026. Saat ini, kelompok lansia telah menyerap sekitar 30 hingga 40 persen dari total belanja kesehatan nasional, atau setara dengan Rp190 triliun hingga Rp260 triliun per tahun.

Tingginya angka belanja kesehatan tersebut, menurut Hanadi, dipicu oleh konsumsi layanan kesehatan lansia yang mencapai tiga hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Kebutuhan ini didominasi oleh penanganan penyakit kronis yang memerlukan perawatan berkelanjutan.

Di tengah meningkatnya biaya obat-obatan, Kimia Farma justru melihat perubahan demografi ini sebagai peluang untuk mengembangkan model bisnis baru. Perusahaan berencana menggeser fokus layanan kesehatan dari kuratif menuju model berbasis pencegahan dan rehabilitasi.

Perseroan memperkirakan bahwa sekitar 70 persen nilai pasar masa depan sektor kesehatan akan berada pada layanan terintegrasi. Rinciannya meliputi layanan kesehatan di rumah (home care) dan perawatan jangka panjang sebesar 20 persen, pengelolaan penyakit kronis 20 persen, layanan kebugaran dan pencegahan 15 persen, serta layanan diagnostik 15 persen.

Sebagai bagian dari pengembangan ini, Kimia Farma juga meluncurkan portofolio Healthspan. Layanan ini mencakup pencegahan dan perawatan personal yang didukung oleh produk farmasi dan herbal yang diformulasikan khusus untuk lansia.

Selain itu, anak usaha perseroan, PT Kimia Farma Diagnostika (KFD), menyediakan layanan diagnostik, pemeriksaan kesehatan menyeluruh, dan deteksi dini risiko penyakit kronis bagi kelompok usia lanjut. Untuk menjangkau lansia dengan keterbatasan mobilitas, perseroan menghadirkan layanan home care melalui program Home Lab, Home Pharmacy, dan Home Nurse.

Meskipun prospeknya cerah, Hanadi mengakui bahwa pengembangan ekosistem penuaan sehat masih menghadapi sejumlah tantangan. Hambatan utama meliputi keterbatasan integrasi layanan home care, skema pembiayaan untuk layanan preventif yang belum optimal, serta kekurangan tenaga pendamping lansia dan tenaga kesehatan spesialis geriatri.

Di sisi lain, akses terhadap layanan kesehatan khusus lansia di luar kota-kota besar dinilai masih terbatas. Menanggapi hal ini, Kimia Farma mendorong terciptanya kolaborasi yang erat antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lansia untuk membangun ekosistem layanan kesehatan yang berkelanjutan.

Lebih lanjut, perseroan juga mengusulkan model pembiayaan multisaluran. Model ini mengombinasikan berbagai sumber pembiayaan, seperti BPJS Kesehatan, program kesehatan perusahaan (corporate wellness), asuransi swasta, hingga skema pembiayaan bersama (co-payment). Langkah ini dinilai penting untuk mendukung terwujudnya layanan penuaan sehat yang inklusif dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar