Akibatnya, investor pun mencari aman. Mereka berbondong-bondong ke aset penyimpan nilai seperti emas, yang melonjak ke rekor tertinggi sebuah tren yang disebut debasement trade. Ada juga aliran dana yang deras ke reksa dana pasar berkembang, sebuah rotasi keluar dari aset AS yang oleh sebagian orang dijuluki quiet-quitting.
“Pergerakan dolar hari ini mungkin terlihat berlebihan,” kata Tatiana Darie, Macro Strategist di Bloomberg. “Tapi pernyataan Presiden Trump menegaskan risiko yang masih akan terus menekan mata uang ini. Wajar jika investor mencari perlindungan di tempat lain.”
Selama ini, sikap Trump terhadap dolar memang sering terlihat mendua. Di satu sisi, ia memuji dolar kuat sebagai alat negosiasi. Di sisi lain, ia tak menampik manfaat dolar lemah bagi pabrik-pabrik di dalam negeri.
Meski bisa mendongkrak ekspor, pelemahan dolar yang berkepanjangan jelas membawa risiko. Robert Kaplan, wakil ketua Goldman Sachs Group Inc., mengingatkan soal utang pemerintah AS yang sudah menumpuk.
Fakta di pasar pun berbicara. Sejak pelantikan Trump, indeks mata uang AS versi Bloomberg merosot hampir 10 persen. Trader masih bertaruh pelemahan akan berlanjut. Premi untuk opsi yang diuntungkan oleh pelemahan dolar bahkan mencapai level tertinggi sejak 2011. Ekspektasi bullish terhadap mata uang lain juga meroket.
Volume perdagangan melonjak tajam. Transaksi melalui Depository Trust & Clearing Corp. pada Selasa lalu bahkan memecahkan rekor. Dan setidaknya satu indikator menyebut, dolar masih dinilai terlalu mahal. Berdasarkan paritas daya beli dari OECD, dolar AS dinilai terlalu tinggi terhadap hampir semua mata uang G10, kecuali franc Swiss. Sementara Yen dan Euro dinilai sangat undervalued sebuah argumen yang sering digunakan eksportir Eropa dan Jepang.
Trump sendiri sepertinya merasa punya kendali penuh atas nilai tukar. Di kesempatan yang sama, ia menyatakan bisa memanipulasi kekuatan dolar.
Tapi ia menggambarkan hal itu sebagai hasil yang tidak diinginkan, sambil menyamakannya dengan mempekerjakan orang tanpa perlu hanya untuk mendongkrak statistik. Ia lalu kembali menyoroti praktik negara Asia, yang menurutnya sengaja melemahkan mata uang.
Jadi, di tengah gejolak pasar dan komentar yang saling bertolak belakang, satu hal yang pasti: dolar AS sedang berada di jalur yang berliku. Dan semua mata tertuju pada kata-kata berikutnya dari orang nomor satu di Gedung Putih.
Artikel Terkait
CDIA Cairkan Dividen Rp1,34 per Saham, Investor Bisa Cek Saldo Hari Ini
Istana Lantik Dewan Energi, Bursa Kolaps 8 Persen
Bank Sentral Thailand Perketat Pengawasan Uang Tunai Jelang Pemilu 2026
Guncangan di Pucuk Pimpinan: Tiga Petinggi Mundur, Chandra Asri Lakukan Restrukturisasi