Trump Santai, Dolar Terjun: Komentar Optimis Justru Picu Pelemahan Terdalam

- Kamis, 29 Januari 2026 | 03:06 WIB
Trump Santai, Dolar Terjun: Komentar Optimis Justru Picu Pelemahan Terdalam

Donald Trump tampak santai saja soal dolar yang melemah. Bahkan, Presiden AS itu menyebut kondisi mata uang negaranya sedang baik-baik saja.

Ditanya apakah ia khawatir dengan penurunan nilai dolar, Trump justru membalas dengan nada optimis. Ini terjadi di Iowa, Selasa lalu.

Namun begitu, komentar itu justru seperti memberi angin bagi para pelaku pasar. Alih-alih menenangkan, pernyataannya malah mendorong pelemahan dolar AS lebih dalam, hingga ke level terendah sejak awal 2022. Bloomberg Dollar Spot Index anjlok 1,2 persen, dan berpotensi mencatat penurunan bulanan terburuk sejak April.

Sejak Trump kembali berkuasa, dolar memang mengalami penurunan terdalam. Mirip dengan guncangan yang terjadi tahun lalu akibat kebijakan tarif dagangnya. Kini, kekhawatiran akan kebijakan yang sulit ditebak membuat banyak investor asing berpikir dua kali untuk menanamkan modal di AS.

Di sisi lain, Trump punya sejarah panjang menuduh negara lain sengaja melemahkan mata uang mereka. Menteri Keuangannya, Scott Bessent, juga kerap menyoroti selisih antara harga dolar dan nilainya sebagai mata uang cadangan global. Jadi, komentar terbaru Trump itu dianggap banyak orang sebagai lampu hijau untuk menjual dolar.

“Banyak orang di kabinet Trump menginginkan dolar yang lebih lemah agar ekspor menjadi lebih kompetitif. Mereka sedang mengambil risiko yang terukur. Mata uang yang lebih lemah bisa menguntungkan sampai situasinya menjadi tidak terkendali,” jelas Win Thin, kepala ekonom di Bank of Nassau.

Faktor lain turut berperan, tentu saja. Penguatan tajam Yen pekan lalu, misalnya, ikut mendorong pelemahan dolar. Para trader bersiap-siap menghadapi intervensi pemerintah Jepang yang berusaha menopang yen.

Tapi jangan salah, kebijakan Trump sendiri yang sulit ditebak juga memperparah keadaan. Mulai dari ancaman mengambil alih Greenland, tekanan terhadap Federal Reserve, pemangkasan pajak yang melebarkan defisit, hingga gaya kepemimpinannya yang memecah belah semuanya mengguncang kepercayaan sekutu dan investor.

Yang menarik, pelemahan ini terjadi dalam kondisi yang seharusnya mendukung dolar. Imbal hasil obligasi pemerintah naik, dan ada ekspektasi The Fed akan menahan pemotongan suku bunga. Dua hal ini biasanya justru menguatkan mata uang. Trump sendiri terus mendesak agar suku bunga diturunkan lebih jauh, sebuah langkah yang jelas akan membebani dolar.


Halaman:

Komentar