Harga minyak sawit mentah atau CPO kembali menguat pada Rabu kemarin. Ini sudah hari ketiga berturut-turut harganya naik, dan posisinya masih bertahan di kisaran level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Apa penyebabnya? Ternyata, sentimen dari pasar minyak nabati lain ikut mendorong.
Di Dalian, kontrak minyak kedelai dan palm olein sama-sama naik lebih dari satu persen. Sementara itu, di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai juga merangkak naik 0,81 persen. Seperti kita tahu, pergerakan harga minyak sawit seringkali mengikuti kompetitornya ini karena mereka berebut pangsa pasar global.
Anilkumar Bagani, Kepala Riset Komoditas di Sunvin Group Mumbai, menyoroti hal ini.
“Kontrak berjangka melanjutkan tren naik secara umum, ditopang sentimen bullish dari minyak kedelai Chicago, palm olein dan minyak kedelai Dalian, serta momentum kenaikan harga energi,” jelasnya.
Ia menambahkan, faktor penawaran juga berperan. Produksi yang lebih lemah diiringi ekspor yang masih sehat sepanjang Januari turut menjaga momentum bullish itu. Tapi, ceritanya nggak semulus itu.
Ada hambatan. Penguatan nilai tukar Ringgit Malaysia membatasi ruang kenaikan lebih lanjut. Mata uang yang menguat cenderung mengurangi daya saing ekspor, sehingga jadi semacam rem bagi kenaikan harga CPO.
Artikel Terkait
IHSG Tergelincir 8%, Bos Danantara Desak BEI Tanggapi Laporan MSCI
Purbaya Guncang Kemenkeu, 36 Pejabat Eselon II Diganti
Tambang Emas Martabe Beralih ke BUMN Baru di Bawah Danantara
Merger Tiga Anak Usaha Pertamina Mundur ke Februari 2026