Upaya KPK mengusut kasus korupsi pengadaan makanan tambahan untuk bayi dan ibu hamil ternyata mentok di tengah jalan. Kendalanya sederhana tapi pelik: mereka kesulitan menemukan sampel fisik barang buktinya. Tanpa contoh makanan itu, penyelidikan sulit bergerak maju.
Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, mengakui hal ini di gedung KPK, Jakarta Selatan, Sabtu lalu.
"Ini sudah berlangsung lama. Yang sekarang sedang kami cari mati-matian ya sampel itu," ujar Asep.
Sampel itu krusial. Menurut Asep, sampel harus diuji di laboratorium untuk membuktikan ada ketidaksesuaian kandungan. Sayangnya, mencari biskuit dan premiks itu seperti mencari jarum dalam jerami.
"Kita cari di perusahaan-perusahaan, tapi barangnya udah lama. Ini kan investigasi ilmiah, harus ada pembuktian lab. Misal ada laporan kekurangan vitamin A atau zat besi, kita harus bisa tunjukkan, 'nih, lihat, beneran nggak ada di barangnya'. Di titik ini kami agak tersendat," sambungnya, menjelaskan dilema yang dihadapi timnya.
Sebagai catatan, kasus yang diselidiki ini berkaitan dengan program di Kementerian Kesehatan. Modusnya, seperti pernah dijelaskan Asep pada Rabu (6/8/2025), terbilang kejam: mengambil untung dari yang paling rentan.
"Programnya mulia, beri nutrisi untuk cegah stunting pada ibu hamil dan anak. Tapi eksekusinya bobrok," katanya.
Artikel Terkait
Korlantas Polri Kerahkan Dua Satgas Khusus Amankan Rest Area Arus Mudik 2026
KPK Sita Rp610 Juta di OTT Cilacap, Uang Dikemas dalam Goodie Bag untuk THR Eksternal
Korlantas Imbau Pemudik Manfaatkan Rest Area, Kecelakaan Naik 4,8% di Hari Kedua Operasi Ketupat
Korban Penyiraman Air Keras KontraS Alami Luka Bakar 24 Persen, Polisi Genjot Penyidikan