Di sisi lain, ada harapan dari faktor permintaan. Pasar memperkirakan permintaan akan membaik seiring mendekatnya perayaan Tahun Baru Imlek dan bulan Ramadan di Februari nanti. Pelaku pasar juga bersiap dengan prediksi penurunan tajam produksi Januari akibat faktor musiman hal yang wajar terjadi.
Faktor eksternal lain datang dari harga minyak mentah dunia yang kembali menguat. Kekhawatiran pasokan akibat badai musim dingin di AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah jadi pemicunya. Ini penting karena minyak sawit jadi lebih menarik untuk biodiesel ketika harga minyak bumi tinggi.
Data ekspor dari Malaysia sebenarnya cukup menggembirakan. Menurut surveyor kargo Intertek Testing Services, ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1-25 Januari melonjak 9,97% dibanding bulan sebelumnya. AmSpec Agri Malaysia, perusahaan inspeksi independen, juga memperkirakan kenaikan, meski angkanya sedikit lebih rendah, yaitu 7,97%.
Namun begitu, suasana hati pasar tetap waspada. Mereka menanti rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) China untuk Januari, mengingat negeri Tirai Bambu itu adalah pembeli utama minyak sawit dunia. Hasil data itu bisa mempengaruhi sentimen. Belum lagi, keputusan suku bunga The Fed yang akan datang turut dicermati dengan seksama oleh para investor.
Jadi, meski ada angin segar dari banyak sisi, kenaikan harga CPO masih berjalan dengan hati-hati. Dihadang oleh Ringgit yang kuat dan ketidakpastian data ekonomi global, rally-nya untuk sementara ini terbatas.
Artikel Terkait
IHSG Tergelincir 8%, Bos Danantara Desak BEI Tanggapi Laporan MSCI
Purbaya Guncang Kemenkeu, 36 Pejabat Eselon II Diganti
Tambang Emas Martabe Beralih ke BUMN Baru di Bawah Danantara
Merger Tiga Anak Usaha Pertamina Mundur ke Februari 2026