Pertamina Geothermal Energy (PGEO) Bidik Bisnis Sewa Alat Tambang

- Sabtu, 14 Maret 2026 | 18:50 WIB
Pertamina Geothermal Energy (PGEO) Bidik Bisnis Sewa Alat Tambang

PT Pertamina Geothermal Energy (PGEO) ternyata sedang merambah jalur bisnis baru. Perusahaan pelat merah itu tak cuma fokus pada panas bumi, tapi kini juga menjajaki peluang di bidang penyewaan mesin dan peralatan untuk sektor pertambangan dan penggalian. Intinya, mereka mau diversifikasi.

Rencananya, PGEO akan menambah klasifikasi usahanya dengan kode KBLI 77395. Kode itu secara spesifik mencakup aktivitas sewa-menyewa alat dan mesin untuk keperluan tambang. Langkah ini bukan tanpa alasan.

Menurut keterangan resmi manajemen yang dirilis Jumat (13/3/2026), strategi ini punya dua tujuan sekaligus.

"Di satu sisi, kami ingin mengoptimalkan pemanfaatan aset yang sudah ada. Di sisi lain, ini cara untuk memperlebar portofolio bisnis dan tentu saja, membuka keran pendapatan potensial baru," begitu kira-kira penjelasan mereka.

Kalau rencana ini berjalan, diversifikasi usaha PGEO diharapkan makin kuat. Tidak hanya itu, ekspansi ini juga dilihat bisa memperkokoh posisi perusahaan. Apalagi, kebutuhan akan layanan penunjang di industri energi dan pertambangan belakangan memang terus naik.

Namun begitu, semua ini masih rencana. Perubahan kegiatan usaha itu harus dapat lampu hijau dari para pemegang saham terlebih dahulu. Persetujuan akan dimintakan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan pada 21 April 2026 mendatang.

Lalu, bagaimana kinerja keuangan PGEO belakangan? Ternyata, di tengah rencana ekspansi ini, perusahaan mencatatkan penurunan laba sepanjang 2025. Labanya anjlok 14,2 persen, menjadi USD137,7 juta dari sebelumnya USD160,49 juta di tahun 2024.

Penyebab utamanya? Beban pokok pendapatan yang melonjak cukup signifikan, yaitu 19,8 persen menjadi USD199,66 juta. Imbasnya, laba bruto ikut terpangkas 3,1 persen dan laba usaha menyusut 2,2 persen.

Meski laba turun, ada secercah cerah dari sisi pendapatan. Angkanya justru naik 6,3 persen menjadi USD432,73 juta, dari sebelumnya USD407,12 juta. Jadi, perusahaannya tetap tumbuh, hanya saja beban operasionalnya yang membesar.

Nah, dengan kondisi keuangan seperti itu, langkah diversifikasi ke bisnis penyewaan alat ini bisa jadi merupakan terobosan untuk menjaga momentum pertumbuhan ke depannya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar