Jakarta tengah malam, tapi situasi di Lebanon selatan tak pernah benar-benar sunyi. Di tengah eskalasi serangan Israel yang kian menjadi, pemerintah Indonesia punya satu pesan tegas: keselamatan Kontingen Garuda di UNIFIL adalah yang utama.
“Pemerintah Indonesia terus memantau secara dekat perkembangan situasi serta dampaknya terhadap Kontingen Garuda yang bertugas di UNIFIL,” begitu bunyi keterangan resmi Kemlu RI yang dirilis Sabtu lalu. Pernyataan itu tak main-main. Intinya, keamanan personel perdamaian kita di lapangan adalah prioritas nomor satu dalam situasi genting seperti sekarang.
Meski ancaman keamanan meningkat, Indonesia justru mengapresiasi integritas dan dedikasi anak-anak bangsa di sana. Mereka tetap menjalankan mandatnya bersama UNIFIL untuk menjaga stabilitas di Lebanon selatan. Profesionalisme mereka dipertahankan di tengah situasi yang mencekam. Dan harapannya jelas: seluruh anggota kontingen diberikan perlindungan selama bertugas.
Namun begitu, keprihatinan Indonesia nyata. Ketegangan ternyata tak cuma berkutat di sepanjang “Blue Line”, garis demarkasi di selatan. Gelombangnya merambat hingga ke Beirut, ibu kota Lebanon. Ini situasi yang mengkhawatirkan.
Indonesia juga menegaskan poin penting. Berdasarkan hukum internasional, semua pihak wajib menjamin keselamatan personel dan aset PBB di mana pun, tak terkecuali di Lebanon. Pernyataan ini bukan tanpa alasan.
Dengan nada keras, pemerintah kita mengecam peningkatan serangan Israel ke Lebanon. Serangan-serangan itu telah memakan korban jiwa dan merusak infrastruktur. Bagi Indonesia, aksi-aksi tersebut adalah pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
Latar belakang ketegangan ini berawal dari serangan gabungan AS dan Israel ke Iran akhir Februari lalu. Merespons hal itu, kelompok Hizbullah melancarkan serangan ke sejumlah titik militer Israel pada 2 Maret. Balasannya datang hampir bersamaan, di hari yang sama.
Akibatnya? Korban berjatuhan. Bahkan dari kalangan personel UNIFIL negara-negara lain yang terkena imbas serangan Israel. Misalnya, pada 7 Maret lalu, sejumlah personel militer Ghana yang tergabung dalam misi perdamaian itu terluka setelah posisi mereka di selatan Lebanon diserang.
Kejadian serupa terulang seminggu kemudian. Tanggal 14 Maret, markas batalion Nepal dilaporkan terkena tembakan artileri Israel. Kemlu RI pun menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden-insiden yang melukai personel perdamaian ini.
Jelas, situasi di perbatasan itu sedang tidak baik-baik saja. Dan di tengah semua ini, Indonesia terus mengawal anak bangsanya yang bertugas, sambil berharap perdamaian segera kembali.
Artikel Terkait
Mendagri Tito Karnavian Apresiasi Peran TNI dalam Kendalikan Inflasi dan Jaga Stabilitas Nasional
Taylor Swift Kritik Fans yang Terlalu Jauh Menebak Makna di Balik Lagu-lagunya
Pemerintah Tetapkan Aturan Ketat Pendirian Daycare, Wajib Miliki Legalitas dan Pelatihan Perlindungan Anak
Pemprov DKI Bangun Flyover Latumenten untuk Hilangkan Perlintasan Sebidang Kereta