Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Tenaga Kerja AS Jadi Penopang Utama

- Selasa, 27 Januari 2026 | 10:06 WIB
Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Tenaga Kerja AS Jadi Penopang Utama

Federal Reserve, atau The Fed, tampaknya akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Januari ini. Analis melihat, kondisi pasar tenaga kerja Amerika yang cukup solid menjadi alasan utama.

Sinyal ini, seperti dilaporkan Bloomberg, Selasa (27/1), juga mengalir dari sejumlah pejabat internal yang dekat dengan sang ketua, Jerome Powell. Mereka sepertinya tak ingin terburu-buru.

“Mereka kini pada dasarnya sudah berada dalam kisaran estimasi suku bunga netral. Hal itu memunculkan sikap yang lebih berhati-hati, dengan urgensi yang lebih rendah untuk melakukan pemangkasan suku bunga lanjutan,”

Demikian penjelasan Josh Hirt, ekonom senior AS di The Vanguard Group.

Perlu diingat, The Fed sebelumnya sudah tiga kali berturut-turut memotong suku bunga. Langkah itu diambil untuk menyangga pasar kerja sekaligus menekan laju inflasi. Dan hasilnya? Cukup menggembirakan.

Data terbaru menunjukkan, tingkat pengangguran yang sempat melonjak ke 4,5 persen level tertinggi pada November 2025 kini mulai merangkak turun. Indikator tenaga kerja lain juga memberi sinyal positif: gelombang PHK besar-besaran tampaknya takkan terjadi, meski perekrutan berjalan agak lambat.

Di sisi lain, tekanan inflasi pun terlihat mereda. Hingga Desember 2025, inflasi harga konsumen tercatat di angka 2,5 persen. Bukan level yang mengkhawatirkan.

“Secara keseluruhan, situasinya tidak cukup mendesak untuk memerlukan tindakan kebijakan dari The Fed,”

kata Yelena Shulyatyeva, ekonom senior AS di Conference Board. Intinya, kondisi saat ini memberi ruang bagi The Fed untuk menunggu dan mengamati.

Keputusan resmi akan diumumkan Rabu (28/1) besok, sekitar pukul 2.30 siang waktu Washington DC, usai pertemuan para petinggi bank sentral. Namun, dampak politiknya mungkin tak sesederhana itu.

Bila The Fed benar-benar menahan suku bunga, langkah ini berpotensi memicu reaksi dari Presiden Donald Trump. Tapi di balik itu, pertemuan Januari ini justru bisa jadi kesempatan bagi Powell. Ia mungkin bisa mengalihkan perhatian publik dari drama politik dan ancaman hukum yang sedang ia hadapi yang juga bersumber dari Trump.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar