Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan sesi kedua pada Jumat, 12 Juni 2026, dengan penguatan signifikan. Indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut tercatat naik 121,63 poin atau setara 2,07 persen, sehingga bertengger di level 6.007,66.
Sepanjang sesi perdagangan sore itu, sebanyak 645 saham berhasil mencatatkan penguatan, sementara 116 saham lainnya mengalami pelemahan. Adapun 198 saham tercatat bergerak stagnan tanpa perubahan berarti.
Aktivitas transaksi di bursa pun terbilang padat. Volume perdagangan mencapai 33,72 miliar saham dengan nilai transaksi menembus Rp21,33 triliun. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2,34 juta kali. Kapitalisasi pasar atau market cap pun ikut terdongkrak menjadi Rp10.524 triliun.
Seluruh indeks sektoral kompak bergerak di zona hijau, menandakan optimisme yang merata di berbagai lini industri. Sektor bahan baku menjadi primadona dengan mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 4,85 persen, disusul sektor energi yang menguat 4,66 persen. Di sisi lain, hanya sektor kesehatan yang menjadi satu-satunya sektor yang tertekan, dengan pelemahan tipis sebesar 0,58 persen.
Dari jajaran saham dengan kenaikan tertinggi atau top gainers, PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) memimpin dengan lonjakan 33,82 persen ke level Rp91. Disusul oleh PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) yang menguat 30,91 persen menjadi Rp216, dan PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART) yang naik 25 persen ke posisi Rp100.
Sementara itu, tekanan jual terlihat pada beberapa emiten. Tiga besar saham dengan penurunan terdalam atau top losers ditempati oleh PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) yang melemah 14,91 persen ke Rp468, PT Multitrend Indo Tbk (BABY) yang turun 14,53 persen ke Rp200, dan PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) yang merosot 14,38 persen ke Rp131.
Artikel Terkait
Seluruh Sektor Saham BEI Melemah pada Mei 2026, Energi Catat Penurunan Terdalam
BRI Siapkan Buyback Saham Rp500 Miliar, Optimistis Fundamental Perusahaan Solid
Phapros Targetkan Penjualan Tumbuh di Atas 20 Persen pada 2026, Laba Bersih Kuartal I/2026 Melonjak 112,86 Persen
Volatilitas Rupiah Dorong Investor Diversifikasi ke Instrumen Dolar AS