2026: Titik Nadir bagi Keajaiban Bawah Laut?

- Jumat, 09 Januari 2026 | 12:42 WIB
2026: Titik Nadir bagi Keajaiban Bawah Laut?

Bayangkan sebuah kota bawah laut yang ramai, penuh warna dan kehidupan. Itulah gambaran terumbu karang tropis. Meski luasnya kurang dari satu persen dasar laut, ekosistem ini jadi rumah bagi seperempat spesies laut dunia. Tapi keindahannya itu rapuh. Sangat rapuh. Faktanya, dalam beberapa dekade belakangan, kita sudah kehilangan 30 sampai 50 persen terumbu karang global.

Kini, para peneliti di seluruh dunia menyuarakan alarm. Setelah gelombang panas ekstrem melanda lautan di 2023-2024 dan memicu pemutihan karang di 83 negara, pandangan mereka tertuju pada tahun 2026 dengan rasa was-was yang mendalam. Banyak yang bertanya-tanya: akankah tahun itu menjadi titik balik yang tak bisa dikembalikan? Momen di mana karang-karang paling tangguh pun akhirnya menyerah?

Ancaman dari Samudra Pasifik

Nasib karang dunia, rupanya, sangat bergantung pada apa yang terjadi di Samudra Pasifik. Kuncinya ada pada siklus iklim alami yang disebut El Niño–Southern Oscillation (ENSO). Baru-baru ini kita baru keluar dari fase El Niño yang menghangatkan lautan. Fase itu mendorong 84 persen terumbu karang global ke ambang stres panas.

Biasanya, karang punya waktu untuk bernapas dan pulih saat fase La Niña yang lebih dingin tiba. Namun begitu, pemanasan global telah mengacaukan ritme alami ini. El Niño jadi lebih kuat dan lebih sering muncul. Sementara masa transisi antar fase makin pendek dan kurang memberikan kesejukan yang dibutuhkan.

Nah, inilah masalahnya. El Niño berikutnya diprediksi datang lagi pada 2026. Jaraknya terlalu dekat dari kejadian sebelumnya. Banyak terumbu karang belum lagi selesai memulihkan diri. Para ilmuwan khawatir, fase panas yang beruntun ini berpotensi memicu keruntuhan ekosistem karang secara luas.

Kekhawatiran terbesar adalah 2026 menjadi tipping point titik kritis di mana perubahan menjadi drastis dan permanen. Sayangnya, mengenali momen ini saat sedang terjadi itu sulit. Setiap terumbu karang punya karakter unik. Perubahan permanen seringkali tersamarkan oleh guncangan jangka pendek, seperti gelombang panas, di tengah tren pemanasan yang terus merangkak naik.

Meski skenario terburuk berupa keruntuhan global serentak di 2026 peluangnya kecil, di tingkat lokal ceritanya berbeda. Banyak terumbu karang perairan hangat sudah di ujung tanduk. Beberapa bahkan mungkin sudah melewati batasnya. Jika gelombang panas ekstrem menyapu kawasan tropis lagi dalam waktu dekat, kerusakan yang terjadi bisa benar-benar bersifat katastropik.

Seperti Apa Keruntuhan Itu Terjadi?

Semuanya biasanya diawali dengan pemutihan atau bleaching. Saat suhu laut terlalu tinggi, karang stres dan mengusir alga mikroskopis berwarna yang hidup bersimbiosis di jaringannya. Karang itu pun memutih.

Pada tahap ini, karang belum mati. Tapi jika suhu panas bertahan lama, kematian akan menyusul. Spesies yang paling sensitif akan lenyap duluan. Setelah karang mati, alga akan cepat mengambil alih ruang, membuat larva karang baru kesulitan untuk menetap dan tumbuh. Proses pemulihan bisa terhambat sangat lama, bahkan mungkin selamanya.

Tapi, tidak semua cerita berakhir suram. Beberapa karang menunjukkan ketahanan yang mengagumkan. Misalnya, karang di Teluk Aqaba dan perairan Madagaskar terbukti cukup tangguh menghadapi gelombang panas 2023-2024. Ini menunjukkan adanya ketahanan alami pada komunitas tertentu.

Selain itu, ada harapan dari kedalaman. Terumbu mesofotik, yang berada di kedalaman 30 hingga 50 meter, terlindungi oleh lapisan air yang lebih dingin saat gelombang panas melanda. Mereka berpotensi menjadi "bank benih" untuk memulihkan wilayah yang rusak di permukaan.

Musuhnya Bukan Cuma Panas

Meski suhu adalah ancaman utama, tekanan lokal memperparah keadaan. Polusi, penangkapan ikan berlebihan, dan pembangunan pesisir yang tak terkendali membuat karang semakin rentan. Kabar baiknya, mengurangi tekanan-tekanan ini terbukti membantu pemulihan.

Lihatlah contoh Terumbu Karang Mesoamerika. Meski 40 persen arealnya memutih pada 2024, beberapa bagian menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Ini terjadi setelah populasi ikan pulih berkat pengelolaan perikanan yang lebih ketat.

Ancaman diam-diam lainnya adalah pengasaman laut. Laut menyerap karbon dioksida berlebih dari atmosfer, yang membuat air lebih asam. Kondisi ini menyulitkan karang membangun kerangka kerasnya, memperlambat pertumbuhan, dan melemahkan strukturnya. Bahkan karang laut dalam yang terhindar dari pemutihan pun tak luput dari ancaman ini.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Menurut para ahli, setidaknya ada tiga langkah krusial untuk memberi peluang bertahan pada karang di abad ini.

Pertama, memotong emisi karbon secara agresif. Ini mutlak untuk meredam suhu laut.

Kedua, serius menangani tekanan lokal seperti polusi dan penangkapan ikan berlebih.

Ketiga, mengembangkan restorasi karang dengan seleksi genetik, membiakkan jenis karang yang lebih tahan banting terhadap panas.

Tanpa aksi serius di ketiga front ini, kita berisiko kehilangan salah satu keajaiban alam paling vital di planet biru ini. Dan itu bukan hanya kerugian ekologis, tapi juga kehilangan sebuah keindahan yang tak tergantikan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar