Di ruang rapat Komisi XI DPR, Senin (26/1) lalu, Thomas Djiwandono menjalani uji kelayakan dan kepatutan. Calon Deputi Gubernur BI itu memaparkan visinya di hadapan para wakil rakyat.
Langsung di awal, ia menyoroti kondisi ekonomi nasional yang menurutnya cukup solid. Inflasi yang terkendali dan pertumbuhan yang terjaga jadi fondasi utama. "Inflasi mengalami tren penurunan adalah sesuatu yang menurut saya memberikan ruang untuk ekonomi Indonesia ke depannya," ujar Thomas.
Angkanya pun ia sodorkan. Pertumbuhan kuartal keteka mencapai 5,04 persen. Sementara inflasi umum ada di 2,9 persen. Tapi Thomas punya catatan menarik.
"Sebenarnya kalau dikeluarkan emas itu di angka sekitar 1,5 persen," jelasnya. Artinya, inflasi inti kita jauh lebih rendah.
Di sisi lain, ketahanan sektor riil dan eksternal juga tampak bagus. Aktivitas manufaktur masih ekspansif. Yang paling mencolok, neraca perdagangan kita sudah surplus terus-terusan selama lebih dari lima tahun. "Surplus neraca perdagangan kita tetap baik. Sudah selama 67 bulan terakhir tetap konsisten surplus," tegasnya. Cadangan devisa pun disebut mendekati rekor tertinggi, jadi bantalan yang amat berharga.
Namun begitu, Thomas tak cuma bicara soal kondisi hari ini. Ia membawa sebuah konsep strategis yang ia sebut 'Gerak'. Ini adalah kerangka kebijakan yang dirancang agar BI bisa lincah dan adaptif. Tujuannya jelas: mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Strategi itu berdiri di atas lima pilar. Mulai dari penguatan tata kelola, efektivitas kebijakan, hingga resiliensi sistem keuangan. "Ada 5 semacam strategi tematik. Tematik yang saya ingin cetuskan pada hari ini," katanya.
Fondasi utamanya adalah tata kelola yang kuat, yang sudah dibangun sejak reformasi dan independensi BI di tahun 1999. Tapi di sini, Thomas memberi penekanan khusus. Sinergi dengan pemerintah dan OJK, menurutnya, mutlak diperlukan. Tapi satu hal yang tak boleh tergerus: independensi bank sentral.
Artikel Terkait
Purbaya Siap Sidak Pabrik Baja China yang Diduga Lari dari Pajak
Purbaya Santai Tanggapi Firasat Noel: Saya Tak Pernah Terima Duit
Komisi XI DPR Sepakati Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI
Dari Kartu Telepon ke Cloud: Mengenal JAST, Emiten yang Sahamnya Melonjak 34%