Dari verifikasi dokumen, pemeriksaan fisik, sampai pengujian kesehatan semua tahapan dilalui. Hasilnya? Seluruh benih dinyatakan sehat dan bebas dari hama yang dimaksud. Syarat lain seperti izin impor dari Peru juga sudah lengkap.
Di sisi lain, prosesnya sendiri dipermudah berkat sistem SSmQC yang terintegrasi. Mekanisme ini memangkas birokrasi, mempercepat layanan, dan membuat semuanya lebih transparan bagi para pelaku usaha. Jadi, urusan karantina dan bea cukai bisa diselesaikan dalam satu pintu.
Bagi Sri Endah, pemenuhan persyaratan teknis negara tujuan adalah kunci mutlak. Tanpa itu, ekspor bisa mandek. Karena itu, komitmen BKHIT Sumsel tidak hanya soal mendorong pengiriman, tapi juga melindungi sumber daya hayati dan menjaga standar internasional.
"Sinergi antara kepatuhan pelaku usaha dan layanan karantina yang profesional diharapkan terus mendorong peningkatan daya saing ekspor Indonesia di pasar global," harapnya.
Dengan kata lain, kerja keras di balik layar ini bukan cuma untuk satu pengiriman. Ini tentang reputasi. Dan untuk kali ini, langkah awal menuju Peru tampaknya sudah cukup baik.
Artikel Terkait
Dari Hotel Mewah ke Lapak Manggarai: Kisah Kloset Bekas yang Disulap Kembali Kinclong
Pukulan Padel Merajut Jaringan di Pasar Modal
Padel dan Optimisme: AEI Gelar Turnamen untuk Hangatkan Pasar Modal 2026
300 Perusahaan Batu Bara Belum Ajukan RKAB 2026, ESDM Ungkap Penyebabnya