Operasi militer Amerika Serikat yang berakhir dengan ditangkapnya Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, jelas bukan sekadar berita biasa. Ini adalah sebuah eskalasi besar. Washington bilang alasannya memberantas narkoterorisme dan ancaman keamanan global. Tapi, ya, banyak yang langsung bertanya-tanya. Kenapa Venezuela? Dan kenapa harus dilakukan sendiri-sendiri, tanpa melibatkan negara lain?
Pertanyaan itu wajar. Soalnya, tindakan semacam ini jelas-jelas melanggar aturan main dasar dunia internasional. Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB itu tegas: dilarang pakai kekuatan terhadap kedaulatan negara lain. Titik. Jadi, ketika sebuah negara superpower nekat melakukannya, isunya sudah bukan cuma soal hukum lagi. Ini lebih dalam. Ini menunjukkan pergeseran tatanan global ke arah politik kekuasaan yang lebih kasar dan telanjang.
Di sisi lain, ada satu fakta yang seringkali tenggelam dalam narasi resmi tentang terorisme dan narkoba: Venezuela punya cadangan minyak terbesar di planet ini. Coba bayangkan, di tengah krisis energi dan persaingan sengit antar negara besar, sumber daya sebesar itu pasti jadi rebutan. Jadi, wacana keamanan tadi terasa seperti lapisan pembenar saja. Logika utamanya kemungkinan besar adalah perebutan kepentingan energi.
Minyak: Bukan Cuma Komoditas, Tapi Senjata Strategis
Membaca langkah AS ke Caracas, mustahil mengabaikan peran minyak. Menurut data OPEC, cadangan terbukti Venezuela mencapai sekitar 300 miliar barel. Angka itu bukan cuma deretan statistik di laporan tahunan. Itu adalah aset strategis yang menentukan posisi suatu negara di papan catur geopolitik.
Negara dengan cadangan besar punya daya tawar tinggi, tapi sekaligus jadi sasaran empuk. Venezuela terjebak di situasi itu: kaya raya sumber daya alam, tapi terpuruk secara politik dan ekonomi. Sanksi-sanksi AS selama bertahun-tahun yang membatasi akses keuangan dan perdagangan minyak secara sistematis telah melumpuhkan sektor energi mereka. Polanya jelas: lemahkan dulu lewat tekanan ekonomi, lalu intervensi jadi lebih mudah dicari legitimasinya.
Pola ini sebetulnya bukan barang baru. Dalam sejarah, energi sering jadi pemicu campur tangan, baik langsung maupun tidak. Dalam kasus Venezuela, minyaklah yang menjelaskan mengapa negara ini tak pernah lepas dari bidikan kebijakan keras Washington. Jadi, intervensi ini harus dilihat sebagai bagian dari kalkulasi geopolitik yang lebih luas, di mana kontrol atas sumber daya energi tetap jadi jantung persaingan kekuatan besar.
Artikel Terkait
Poros Riyadh-Abu Dhabi Retak di Medan Perang Yaman
Gencatan Senjata Gaza Retak Kembali, Dua Warga Tewas dalam Serangan Udara
Dari Tuduhan Narkoba ke Meja Perundingan: Trump dan Petro Rencanakan Pertemuan di Gedung Putih
Gus Ipul Siapkan Makan Bergizi Gratis untuk 100 Ribu Lansia dan Disabilitas