JAKARTA – Aksi teror terhadap sejumlah YouTuber dan aktivis di awal 2026 bukannya mereda, malah kian meresahkan. Menurut peneliti senior Ikrar Nusa Bhakti, ini bukan insiden acak belaka. Ia melihatnya sebagai bagian dari gelombang pertarungan politik antara dua kelompok besar yang sedang memanas.
Lewat kanal YouTube-nya, Selasa lalu, Ikrar membeberkan fakta yang cukup mencengangkan. Aksi intimidasi itu ternyata sudah menjalar sampai ke tingkat desa. Ia mencontohkan seorang warga Jawa Barat yang diteror keluarga kepala desanya. Penyebabnya sepele: mengeluhkan kondisi jalan rusak di media sosial.
"Ini bukan lagi soal satu dua YouTuber. Teror ini sudah menjadi fenomena politik yang mengancam keamanan individu warga negara," ujar Ikrar.
Modus operandi yang dipakai pun beragam, bahkan terkesan iseng namun sistematis. Mulai dari mobil yang dicoret-coret cat, lemparan telur busuk ke rumah, sampai trik licik seperti pengiriman barang COD fiktif. Bayangkan, korban tiba-tiba dapat paket mahal senilai jutaan rupiah yang tak pernah dipesan, lalu diminta bayar di tempat.
Yang lebih parah, intimidasi juga dialami YouTuber yang sedang meliput kondisi pascabencana di Aceh. Pelakunya diduga punya koneksi dengan oknum aparat.
Di sisi lain, Ikrar mendorong para korban untuk melapor ke polisi dengan bukti yang lengkap. Pasang CCTV, dokumentasikan semuanya. Tapi, ia sendiri paham betul ada skeptisisme publik yang menganga. Masyarakat ragu polisi akan serius menangani kasus-kasus seperti ini, karena aroma "permainan politik kekuasaan" yang terlalu kuat tercium.
"Kita berharap polisi menyelesaikan ini secara clear. Kalau rakyat percaya kepada pemerintahan Prabowo, mereka bisa tenang beraktivitas. Tapi kalau Prabowo dan kabinetnya bermain sendiri tanpa memperhatikan suara rakyat, Anda akan digilas oleh lawan politik musuh dalam selimut," tegas Ikrar.
Artikel Terkait
Sutoyo Abadi: Presiden Terkurung, Staf Strategis Didesak Mundur
Ridwan Kamil dan Atalia Resmi Berpisah Setelah 29 Tahun
Pencarian Syafiq Ridhan di Gunung Slamet: Tongkat dan Doa Seorang Ayah di Hutan Belantara
Royman dan Alarm Demokrasi: Saat Watchdog Dihantam di Morowali