Harga emas dunia bangkit lagi pada Selasa kemarin. Setelah sempat tertekan, logam kuning ini merangkak naik didorong oleh dua faktor utama: dolar AS yang melemah dan sentimen inflasi yang mulai mereda. Kekhawatiran inflasi itu sendiri sedikit teredam setelah harga minyak mengalami koreksi. Nah, koreksi minyak ini muncul setelah ada sinyal bahwa konflik panas di Timur Tengah mungkin akan segera berakhir.
Secara angka, emas spot berhasil menguat 1,09 persen ke level USD 5.192,66 per troy ons. Pelemahan indeks dolar AS jelas memberi angin segar. Logikanya sederhana, saat dolar melemah, emas yang harganya dikutip dalam dolar jadi lebih terjangkau bagi investor yang memegang mata uang lain. Itu selalu jadi pendorong klasik.
Di sisi lain, pasar minyak memang tampak kehabisan napas. Setelah melesat ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun pada hari Senin, harga minyak merosot di hari Selasa. Pemicunya adalah pernyataan dari Presiden AS Donald Trump yang memprediksi perang di kawasan Timur Tengah dapat segera berakhir. Prediksi itu cukup untuk meredakan ketakutan pasar soal gangguan pasokan yang berkepanjangan.
Namun begitu, realitas di lapangan sepertinya belum sejalan dengan prediksi tersebut. Menurut sejumlah warga Teheran yang dihubungi Reuters, pemboman yang dilancarkan AS dan Israel terhadap ibu kota Iran semalam justru digambarkan sebagai yang paling sengit sejak perang ini dimulai. Jadi, ada gap yang cukup lebar antara harapan di pasar dan apa yang benar-benar terjadi.
Lantas, bagaimana hubungannya dengan emas? Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, punya penjelasannya. Menurutnya, meski harga minyak turun dari puncaknya di atas USD 100, level saat ini tetaplah bersifat inflasioner dan tetap mendukung emas. Hanya saja, level itu sudah tidak lagi cukup tinggi untuk benar-benar membatasi ruang gerak The Fed dalam memangkas suku bunga.
“Dengan harga minyak yang mulai turun dari level tersebut, investor menjadi lebih nyaman bahwa perdagangan berbasis pelemahan nilai mata uang bisa kembali menguat,” ujar Melek.
Memang, emas sering dianggap sebagai lindung nilai inflasi. Tapi logam ini punya musuh bebuyutan: kenaikan suku bunga. Saat suku bunga naik, daya tarik emas cenderung memudar karena ia tidak memberikan imbal hasil seperti aset berbunga.
Kini, perhatian investor beralih menunggu data inflasi AS. Data Indeks Harga Konsumen (CPI) serta Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis akhir pekan ini akan jadi penentu sentimen berikutnya. Kebanyakan analis memperkirakan The Fed akan menahan suku bunganya dalam pertemuan 17-18 Maret mendatang. Mereka sedang menunggu kejelasan lebih lanjut.
Sementara itu, di pasar fisik Dubai, situasinya agak unik. Harga emas di sana justru diperdagangkan dengan diskon terhadap patokan harga London. Kok bisa? Pembatasan penerbangan akibat konflik membuat pasokan emas terjebak di pasar lokal. Di saat yang sama, permintaan dari pembeli tetap lesu. Jadilah, harga jadi lebih murah.
Perak dan platinum ikut-ikutan naik dalam sesi itu. Perak spot melompat 2,7 persen ke USD 89,39, sementara platinum menguat 2,2 persen menjadi USD 2.229,15. Nasib berbeda dialami paladium, yang justru terpangkas 0,9 persen ke level USD 1.675,50. Pasar logam mulia memang selalu punya cerita sendiri-sendiri.
Artikel Terkait
Hutama Karya Raup Laba Rp464 Miliar di Kuartal I-2026, Tembus 172 Persen Target
PT Sinar Terang Mandiri Tbk Bagikan Dividen Rp60,23 Miliar, Setara Rp14,75 per Saham
Indonet Tunjuk Donauly Elena Situmorang sebagai Direktur Utama, Gantikan Andrew Rigoli
IHSG Anjlok 6,6% dalam Sepekan, Saham Logistik Baru IPO Justru Melonjak 94%