Harga emas benar-benar meledak. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, logam kuning itu menembus level psikologis USD4.900 per troy ons pada Kamis lalu. Rekor baru ini bukan datang sendirian; perak dan platinum juga ikut-ikutan mencetak angka tertinggi yang belum pernah dilihat pasar sebelumnya.
Kalau dirinci, emas spot naik 2,17 persen ke posisi USD4.936,07. Puncaknya bahkan sempat menyentuh USD4.940,88. Salah satu pendorong utamanya ya pelemahan dolar AS itu. Indeks DXY turun 0,4 persen, yang otomatis bikin emas yang harganya pakai dolar jadi lebih murah dan menarik buat investor dari luar Amerika.
Tapi tentu saja, ceritanya nggak cuma soal dolar. Ketegangan geopolitik yang terus berlanjut dan desas-desus soal The Fed yang bakal turunin suku bunga tahun ini, ikut memberi angin. Semua faktor ini, menurut Peter Grant dari Zaner Metals, adalah bagian dari tren besar 'de-dolarisasi' yang mendongkrak permintaan emas.
Lalu, ketegangan geopolitik seperti apa? Dari laporan Reuters, Presiden AS Donald Trump menyebut sudah dapat akses penuh dan permanen ke Greenland lewat kesepakatan dengan NATO. Sekjen NATO sendiri mendesak sekutu untuk lebih serius mengamankan kawasan Arktik, menanggapi ancaman dari Rusia dan China. Namun, detail kesepakatan ini masih simpang siur. Denmark pun langsung bersuara, menegaskan kedaulatan mereka atas Greenland tidak bisa diganggu gugat.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Melonjak Rp 90 Ribu per Gram di Tengah Perubahan Aturan Pajak
Prabowo Soroti Indonesia sebagai Titik Terang Ekonomi Global di Forum Davos
IHSG dan Rupiah Menguat di Tengah Antisipasi Keputusan Bank of Japan
Putin Tawarkan Dana Perdamaian dari Aset Rusia yang Membeku di AS