Di sisi lain, data ekonomi AS dari indikator PCE menunjukkan belanja konsumen masih kuat pada November dan Oktober. Tapi pasar sepertinya sudah yakin. Mereka memprediksi bank sentral AS akan memotong suku bunga dua kali di paruh kedua tahun ini, masing-masing 0,25 poin. Kondisi suku bunga rendah seperti ini selalu jadi kabar baik untuk emas, aset yang memang nggak ngasih bunga.
Grant punya pandangan menarik soal level harga ke depan. Dia bilang, koreksi jangka pendek justru harus dilihat sebagai peluang beli. Target USD5.000 per ons dianggap sudah sangat dekat. Bahkan, proyeksi Fibonacci di level USD5.187,79 per ons pun dinilai masuk akal untuk dicapai.
Pasar logam mulia lainnya juga panas. Perak spot melesat ke rekor USD96,58 per troy ons. Nikos Tzabouras, Analis Pasar Senior di Tradu, punya pendapat. Dia menilai narasi fundamental perak sebenarnya lebih kuat ketimbang emas. Meski statusnya bukan aset cadangan, perak tetap kebagian untung dari arus safe haven dan dolar yang melemah.
Sementara itu, platinum juga tak mau kalah. Harganya melonjak 4,6 persen ke rekor USD2.601,03 per ons. Palladium ikut menguat, naik 3,3 persen ke level USD1.900,59 per ons. Pasar tampaknya masih bergairah, dan semua mata kini tertuju pada angka ajaib berikutnya: kapan emas sentuh USD5.000?
Artikel Terkait
IHSG Terjun 148 Poin, ZATA dan PTRO Anjlok Lebih dari 14 Persen
IHSG Dibuka Menguat, Saham RMKO Melonjak Hampir 20%
Harga Emas Antam Melonjak Rp90.000 per Gram, Sentuh Rp2,88 Juta
Harga Emas Antam Melonjak Rp 90 Ribu per Gram di Tengah Perubahan Aturan Pajak