Ia menambahkan, pengakuan dari lembaga internasional bukanlah tanpa alasan. "Lembaga-lembaga internasional tidak memuji kami karena optimisme yang tidak berdasar. Mereka melakukannya karena bukti. Mereka mengakui bahwa ekonomi Indonesia berdaya tahan," tambahnya.
Soal angka, realisasi APBN 2025 menunjukkan pemerintah menarik utang baru sebesar Rp 736,3 triliun per akhir Desember 2025. Angka ini mencapai 94,9 persen dari target awal yang ditetapkan tahun lalu, yakni Rp 775,9 triliun.
Kalau dilihat lebih jauh, total pembiayaan anggaran yang terealisasi hingga periode yang sama bahkan melampaui pagu. Realisasinya menembus Rp 744 triliun, atau sekitar 120,7 persen dari rencana awal sebesar Rp 662 triliun.
Namun, realisasi APBN itu akhirnya mencatatkan defisit di penghujung 2025. Defisitnya tercatat Rp 695 triliun, setara dengan 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto nasional. Sebuah angka yang, seperti disebutkan Prabowo, tetap berusaha dijaga di bawah batas 3 persen.
Artikel Terkait
HOME Syariah: Dari Renovasi Rumah hingga Kebangkitan Ekonomi Keluarga
Prabowo di Davos: Stabilitas dan Danantara Jadi Modal Indonesia Jadi Negeri Peluang
LPS Teguhkan Suku Bunga Penjaminan Simpanan Hingga 2026
Pemerintah Stop Impor Solar C48 Mulai 2026, Tapi Bensin Masih Diimpor