“Kebijakan penyaluran kredit yang lebih longgar antara lain pada aspek biaya persetujuan kredit, jangka waktu kredit, dan suku bunga kredit,” jelas Denny dalam keterangan tertulisnya, Kamis (22/1).
Indeks Lending Standard (ILS) yang negatif sebesar -2,59 mencerminkan kelonggaran itu. Tapi hati-hati, untuk triwulan I 2026 nanti, bank-bank diperkirakan akan lebih berhati-hati. ILS diproyeksikan positif di angka 2,75.
Meski begitu, prospek jangka panjang masih terlihat cerah. Responden survei memperkirakan outstanding kredit hingga akhir 2026 bisa tumbuh lebih tinggi ketimbang realisasi tahun sebelumnya.
“Kondisi tersebut antara lain ditopang oleh prospek kondisi ekonomi dan moneter yang tetap baik serta risiko dalam penyaluran kredit yang tetap terjaga,” tambah Denny.
Sementara untuk Dana Pihak Ketiga (DPK), pertumbuhan tahun 2026 diperkirakan akan melandai. Proyeksinya sekitar 7,62 persen year on year, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun 2025 yang mencapai 13,83 persen. Jadi, meski kredit menggeliat, sumber dananya mungkin akan berbeda dinamikanya.
Artikel Terkait
Divestasi Saham Freeport untuk Papua Ditargetkan Rampung Awal 2026
Menteri Keuangan Ungkap Hasil Pemeriksaan Tabungan Para Bawahannya
GOLF Kukuhkan Ekspansi di Bali, Lanjutkan Proyek Hunian Eksklusif di New Kuta Golf
Saham Lippo Karawaci Melesat 30%, Transaksi Tembus Rp661 Miliar