Dalam keterangan tertulisnya Kamis lalu, Zein menambahkan, percepatan perbaikan ini adalah bentuk tanggung jawab perusahaan atas penugasan dari negara.
Selain di Bireuen, perhatian juga tertuju ke Pidie Jaya. Di sana, Jembatan Krueng Meureudu yang menghubungkan lintas timur Aceh, sudah selesai diperbaiki sejak pertengahan Desember. Konektivitas antarwilayah yang sempat lumpuh, akhirnya pulih.
Upaya pemulihan sebenarnya lebih luas dari sekadar membangun jembatan. Sejak akhir November, alat-alat berat seperti excavator dan dump truck sudah dikerahkan ke titik-titik kritis. Wilayah seperti Aceh Tamiang, ruas Blangkejeren-Kutacane, Bireuen-Takengon, hingga Pidie jadi sasaran. Tujuannya jelas: membuka jalan yang tertutup, membersihkan sisa longsoran, dan menyiapkan infrastruktur darurat secepat mungkin.
Pemerintah sendiri sudah bilang, perbaikan infrastruktur pascabencana adalah prioritas utama. Mereka tak ingin ada wilayah yang terisolasi, putus dari akses bantuan dan logistik. Dengan dibukanya kembali jalan dan jembatan, harapannya jelas. Distribusi bantuan harus terus jalan, roda ekonomi harus berputar lagi, dan layanan publik bisa sampai ke semua orang. Itulah targetnya: pemulihan yang berkelanjutan untuk Aceh.
Artikel Terkait
GOLF Kukuhkan Ekspansi di Bali, Lanjutkan Proyek Hunian Eksklusif di New Kuta Golf
Saham Lippo Karawaci Melesat 30%, Transaksi Tembus Rp661 Miliar
IHSG Tergelincir dari Level 9.000, Saham-Saham Ini Justru Melonjak Tajam
Industri Tapioka Terkapar: Kapasitas Pabrik Menganggur, Impor Masih Mengalir