Angka Rp 17.000 per dolar AS seperti jadi momok yang sulit dihindari. Rupiah masih terperosok di level itu, bahkan beberapa bank nasional sudah menjual dolar dengan kurs yang melampaui angka psikologis tersebut. Berita ini pun ramai diperbincangkan sepanjang Rabu kemarin.
Mengutip Bloomberg, posisi rupiah memang tak menggembirakan. Pada penutupan perdagangan Rabu (21/1) pukul 16.00 WIB, mata uang kita tercatat melemah 20 poin ke level Rp 16.936 per dolar AS. Tekanan terasa nyata. Namun begitu, Bank Indonesia sudah angkat bicara dan berjanji tak akan tinggal diam.
Bank-Bank Besar Tembus Level Rp 17.000
Tekanan di pasar spot ternyata bukan isapan jempol belaka. Faktanya, kurs jual di sejumlah bank pelat merah untuk transaksi tertentu sudah menembus Rp 17.000. Ini khususnya terlihat pada transaksi TT Counter.
Lalu, apa itu TT Counter? Singkatnya, ini kurs yang dipakai bank untuk transaksi valas non-tunai lewat teller. Misalnya untuk pembayaran impor atau pengiriman uang dari luar negeri. Transaksinya cuma lewat pemindahbukuan, tanpa ada dolar fisik yang berpindah tangan.
Di BNI, misalnya, kurs jual untuk dolar AS sudah dipasang di Rp 17.105, sementara kurs belinya Rp 16.815.
Kondisi serupa terjadi di BRI. Bank ini menetapkan kurs jual di Rp 17.065 dan kurs beli di Rp 16.865. Angka-angka itu jelas menunjukkan betapa tekanan pelemahan rupiah merambah ke mana-mana.
Tak ketinggalan, Bank Mandiri juga ikut menaikkan patokan. Bank dengan logo pita emas itu menjual dolar AS di harga Rp 17.070, dengan kurs beli di posisi Rp 16.770.
Peringatan Keras dari Perry Warjiyo
Menyikapi gejolak ini, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo bersikap tegas. Ia menegaskan BI siap turun tangan secara besar-besaran untuk menjaga stabilitas rupiah. Pernyataan ini disampaikannya di tengah dinamika pasar yang makin bergejolak.
Perry menekankan, semua instrumen kebijakan sudah disiapkan. Bank sentral sama sekali tidak akan ragu untuk masuk ke pasar guna meredam gejolak yang berlebihan.
“Kami tegaskan BI tidak segan-segan melakukan intervensi dalam jumlah besar, baik di intervensi non deliverable forward, maupun di dalam negeri non deliverable forward di pasar luar negeri maupun di dalam negeri spot dan DNDF. Kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat,”
Begitu penjelasan Perry dalam konferensi pers, Rabu (21/1).
Menurutnya, pelemahan rupiah saat ini dipicu oleh campuran faktor eksternal dan internal. Dari luar, situasi geopolitik global dan kebijakan tarif Amerika Serikat menciptakan ketidakpastian yang tinggi. Di sisi lain, faktor dalam negeri juga turut mempengaruhi. Semuanya berpadu, mendorong rupiah ke posisi yang sulit.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 3,06 Persen, Lima Hari Beruntun Terkoreksi Imbas Tekanan Jual Saham Konglomerat dan Perbankan
Grup Astra Kuasai 91,44% Saham Mega Manunggal Property, Fokus Tingkatkan Okupansi Gudang
IHSG Anjlok 3,06 Persen ke Level 7.152, Seluruh Sektor Saham Tertekan
Saham LPPF dan ASGR Anjlok ke ARB Usai Ex Dividen, Terjebak Fenomena Dividend Trap