Flexing, atau pamer kekayaan, kini jadi senjata utama. Daripada berkoar-koar soal imbal hasil fantastis, lebih efektif memposting foto diri dengan mobil mewah, jam tangan mahal, atau liburan ke luar negeri di media sosial. Pesannya tersirat, tapi sangat kuat: “Lihat, hidup mewah saya adalah bukti sukses dari investasi ini.”
Cara ini ternyata ampuh secara psikologis. Calon investor tidak lagi dijejali kata-kata, melainkan disuguhi bukti visual yang terlihat nyata. Gambar-gambar kemewahan itu berfungsi sebagai social proof, pembuktian sosial yang sulit dibantah. Menurut beberapa pengamatan, gambar-gambar inilah yang kemudian memupuk keyakinan palsu bahwa produk yang ditawarkan memang legit dan menguntungkan.
Pada akhirnya, yang terbayang di benak calon korban bukan lagi prospektus atau analisis risiko, tapi fantasi akan gaya hidup tinggi yang dipamerkan oknum tersebut. Rayuan tanpa kata itu justru lebih menggoda dan menjerat.
Akarnya Tetap Sama: Literasi yang Setengah Hati
Lantas, mengapa orang tetap mudah tertipu, meski modusnya sudah berubah? Jawabannya seringkali terletak pada hal yang dianggap sepele: lemahnya komitmen untuk melek informasi sebelum berinvestasi.
Literasi finansial bukan cuma sekadar tahu istilah. Ia adalah upaya sungguh-sungguh untuk memahami konsep-konsep dasar seperti risk and reward, imbal balik investasi, atau profil risiko. Tanpa itu, seseorang bagai berjalan di gelap. Verifikasi yang panjang dan kritis terhadap suatu penawaran investasi seringkali dilewatkan karena tergiur jalan pintas menuju kekayaan.
Padahal, dengan literasi yang memadai, kita bisa mengenali bau manipulasi dari jauh. Baik itu yang berbentuk janji mutlak gaya lama, maupun yang dibungkus kemewahan gaya baru. Literasi adalah tameng yang membuat kita tak mudah terbuai, sekaligus kunci untuk menghindari lubang kerugian yang dalam.
Jadi, sebelum tergoda oleh rayuan apa pun, tradisional maupun modern, berhenti sejenak. Tanya, pelajari, dan verifikasi. Karena uang yang hilang mungkin bisa dicari lagi, tapi kepercayaan yang terkikis akan jauh lebih sulit dipulihkan.
Artikel Terkait
OJK Kembalikan Rp 161 Miliar ke Korban Penipuan, Modus Scam Kian Lintas Negara
Dua Saham UMA Berlawanan Arah: BULL Tergelincir, ELIT Terus Melaju
Treasure Global Lepas 18,2 Miliar Saham BUMI, Dana Rp6,9 Triliun Mengalir
IHSG Tergelincir 124 Poin, Pasar Dihantui Aksi Jual Massal