Tapin Gelar Kampanye Cegah Pernikahan Anak untuk Tekan Angka Stunting

- Minggu, 08 Maret 2026 | 00:15 WIB
Tapin Gelar Kampanye Cegah Pernikahan Anak untuk Tekan Angka Stunting

Oleh: Ibnu Sina

TVRINews, Kabupaten Tapin

Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Tapin menemui satu strategi baru. Kali ini, sasarannya adalah para remaja. Pemerintah setempat baru saja menggelar kampanye pencegahan perkawinan anak, yang menyasar langsung pelajar SMA dan sederajat di wilayah itu.

Acaranya sendiri dikemas cukup santai, lewat buka puasa bersama. Tujuannya jelas: membangun komitmen dan mengajak masyarakat berpartisipasi mencegah pernikahan dini. Dengan cara ini, diharapkan para pelajar bisa lebih fokus menyelesaikan pendidikan minimal 12 tahun sebelum memikirkan mahligai rumah tangga.

Menurut Kepala DP3A Kabupaten Tapin, Hj. Marsidah, program ini adalah bagian tak terpisahkan dari langkah pencegahan stunting.

“Tingkat perkawinan anak di sini masih cukup tinggi. Lewat kegiatan ini, kami berharap para pelajar bisa jadi pelopor di lingkungannya masing-masing. Mereka bisa membagikan informasi tentang bahaya perkawinan anak. Semoga pemahaman masyarakat luas makin terbuka, sehingga mereka bisa menunda pernikahan untuk anak-anaknya,” jelas Hj. Marsidah, Jumat (6/3/2026).

Di sisi lain, Ketua PKK Kabupaten Tapin, Faridah, melihat persoalan ini dari sudut yang lebih luas. Menurutnya, dampak pernikahan usia anak itu kompleks dan berat.

“Dampaknya serius. Dari sisi pendidikan, mereka yang menikah dini cenderung putus sekolah dan kehilangan peluang meraih cita-cita. Dari kesehatan, terutama bagi anak perempuan, risiko komplikasi kehamilan dan persalinan jauh lebih tinggi. Belum lagi secara ekonomi, keluarga yang dibangun tanpa persiapan matang seringkali terjerat masalah finansial yang berkepanjangan,” ungkap Faridah.

Nah, melalui kampanye seperti ini, ada harapan besar agar generasi muda menunda pernikahan. Pemerintah punya patokan usia ideal: minimal 25 tahun untuk laki-laki dan 21 tahun untuk perempuan. Usia yang dianggap lebih siap, baik secara mental, fisik, maupun finansial.

Langkah di Tapin ini patut diapresiasi. Mengajak remaja berbicara langsung, di tengah suasana santai, mungkin lebih efektif daripada sekadar seminar formal. Yang jelas, perjalanan masih panjang. Tapi setidaknya, sudah ada titik terang.

Editor: Redaktur TVRINews

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar