Serangan Israel di Khan Younis Tewaskan Bayi dan Picu Peringatan Qatar

- Jumat, 21 November 2025 | 11:54 WIB
Serangan Israel di Khan Younis Tewaskan Bayi dan Picu Peringatan Qatar

Udara di Gaza kembali memanas Kamis (20/11) lalu. Israel melancarkan serangan baru yang, sayangnya, menelan korban jiwa. Setidaknya lima orang dilaporkan tewas menurut otoritas kesehatan setempat.

Qatar, yang selama ini jadi mediator antara Israel dan Hamas, langsung angkat bicara. Mereka tak bisa menutupi kekhawatirannya. "Ini adalah eskalasi berbahaya yang dapat menjadi ancaman serius bagi kesepakatan gencatan senjata," begitu bunyi pernyataan resmi Pemerintah Qatar. Intinya, mereka mengutuk keras rangkaian serangan ini, khawatir semua upaya damai yang sudah dibangun bisa hancur berantakan.

Di lapangan, situasinya sungguh memilukan. Mahmud Bassal, juru bicara badan pertahanan sipil Gaza, menyebut serangan itu juga melukai sejumlah warga. Sasaran serangan, menurut penjelasannya, adalah kawasan timur Khan Younis, di selatan Gaza. Yang bikin pilu, tiga dari lima korban tewas ternyata berasal dari satu keluarga yang sama. Bahkan, seorang bayi perempuan yang baru berumur satu tahun ikut menjadi korban.

Serangan ini seolah melanjutkan rentetan kekerasan dari hari sebelumnya. Rabu (19/11), Israel juga melakukan serangan besar yang jauh lebih mematikan. Laporan dari badan pertahanan sipil menyebut 14 orang tewas di Gaza City dan 13 lainnya di Khan Younis. Sebuah hari yang kelam.

Namun begitu, Israel punya dalihnya sendiri. Lewat juru bicaranya, Shosh Bedrosian, Pemerintah Israel membela diri dengan menyatakan serangan ini murni respons. Alasannya, Hamas diduga telah lebih dulu melanggar gencatan senjata dengan mendekati apa yang mereka sebut "garis kuning" lokasi di mana tentara Israel berada selama gencatan.

"Israel membuat keputusan secara independen untuk melakukan serangan udara ini dan tidak meminta izin untuk melindungi diri kami dan rakyat kami," tegas Bedrosian. Pernyataan itu sekaligus menegaskan posisi mereka yang tak mau diatur dalam hal pertahanan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar