Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.721 per Dolar AS, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Tinggi The Fed

- Senin, 25 Mei 2026 | 10:15 WIB
Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.721 per Dolar AS, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Tinggi The Fed

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memulai perdagangan awal pekan ini dengan pergerakan yang nyaris stagnan, mencerminkan tekanan global yang masih membayangi mata uang Garuda. Berdasarkan data Bloomberg pada Senin, 25 Mei 2026, hingga pukul 09.48 WIB, rupiah berada di level Rp17.721 per dolar AS, melemah tipis empat poin atau setara 0,02 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.717 per dolar AS. Sementara itu, mengacu pada data Yahoo Finance, rupiah tercatat di posisi Rp17.712 per dolar AS pada waktu yang sama.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa pergerakan rupiah sepanjang hari ini akan cenderung fluktuatif, meskipun tekanan pelemahan masih mendominasi. Ia memperkirakan mata uang nasional akan bergerak dalam rentang Rp17.680 hingga Rp17.800 per dolar AS dan berpotensi ditutup melemah. "Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.680 per USD hingga Rp17.800 per USD," ujarnya.

Pelemahan rupiah ini tidak terlepas dari faktor eksternal yang masih menjadi sentimen utama. Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menilai bahwa tekanan terhadap rupiah berasal dari penguatan dolar AS yang didorong oleh ekspektasi bahwa suku bunga tinggi Federal Reserve akan bertahan lebih lama. "Pergerakan nilai tukar masih dipengaruhi penguatan dolar AS seiring meningkatnya ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve akan bertahan lebih lama," kata Amru.

Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah turut memperkuat posisi dolar sebagai aset safe haven. Perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, potensi gangguan di Selat Hormuz, serta fluktuasi harga minyak dunia menjadi faktor yang meningkatkan sentimen risiko global. Selain itu, arah kebijakan moneter The Fed, pergerakan indeks dolar AS (DXY), dan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga masih menjadi variabel penting yang memengaruhi pergerakan rupiah.

Meskipun tekanan eksternal cukup kuat, pelemahan rupiah diperkirakan tidak akan terlalu dalam. Hal ini menyusul langkah Bank Indonesia (BI) yang dalam Rapat Dewan Gubernur pada 19–20 Mei 2026 memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Keputusan tersebut diambil sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan mengurangi volatilitas di pasar keuangan domestik.

Ke depan, sentimen dari dalam negeri akan banyak bergantung pada langkah lanjutan BI dalam menjaga stabilitas rupiah, termasuk melalui penguatan intervensi di pasar valuta asing dan upaya menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik. Amru menambahkan bahwa kondisi fundamental ekonomi, seperti inflasi dan cadangan devisa, juga akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah ke depannya. "Kondisi fundamental ekonomi seperti inflasi dan cadangan devisa, juga akan turut menentukan arah rupiah," ucapnya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar